[ FF Timoteo x Hansol | Blurry Dream (One Shoot – Requested)

Disclaimer : 

SEMUA INI TANGGUNG JAWAB SISIL. Tadinya niat gue short story, malah jadi kepanjangan. Baru juga nentuin chara, udah harus bikin plot dan nulis. Tauk deh amburadul ato enak buat dibaca. Not my best FF, but here you go. Silahkan bash di kolom komentar. BYE!
***
Entah pepatah, atau memang fakta, atau mungkin kebanyakan pengalaman dari banyak orang mengatakan bahwa sudah sepatutnya kau mengatakan kalimat ‘Aku menyukaimu’ pada orang yang kau sukai sebelum terlambat.

Dan sayangnya, bagi Hojung, semuanya sudah lebih dari terlambat.

Bahkan ketika dirinya mencuri start untuk memonopoli Moonkyu beberapa tahun lalu, tak membuat Moonkyu berada di sisinya sampai akhir. 

Semua rencana yang tersusun rapi semenjak mereka masuk sekolah menengah dulu, dihancurkan begitu saja. Hojung mengangkat kepalanya, menoleh terang-terangan ke arah Moonkyu yang masih gelisah, mengepalkan tangannya kuat-kuat.

‘Momennya terlalu tepat,’ pikirnya sambil menarik napas dalam-dalam. Rooftop agensi, sore hari yang sempurna dengan semburat kemerahan khas, pertanda bahwa matahari akan terbenam, ditambah angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan. Keduanya berdiri bersebelahan, Moonkyu menghadap ke arah pusat kota Seoul, sedangkan dia sendiri menghadap pintu rooftop sambil sesekali menatap langit. Sayup-sayup lantunan musik R&B dari café seberang, membuat Hojung mati-matian menahan dirinya sendiri untuk tidak mendengus.

‘Bahkan tanpa berbicara pun, orang sudah tahu bahwa situasi kami sekarang mirip dengan suasana ketika suatu pasangan memutuskan untuk berpisah. Menyedihkan.’

Hojung menengadahkan kepalanya ke atas, ke langit sore hari itu. Dia bisa melihat dari sudut matanya, bahwa Moonkyu masih belum mengumpulkan keberaniannya. Hojung tersenyum kecut, dia sudah bisa memperkirakan kemana arah pembicaraan sore ini ketika Moonkyu mengiriminya pesan singkat berisikan, “Aku ingin bicara.”

Hojung masih memandang langit ketika akhirnya Moonkyu menghela napasnya keras, mengumpulkan semua keberaniannya yang tersisa dan berkata, “Mianhae.”

Hojung mendengus dan menolehkan kepalanya ke kanan, menatap mata Moonkyu lurus-lurus, “Wae?”

Keberanian Moonkyu hilang, seiring dengan kepalanya yang tertunduk. Sebenarnya Hojung sudah tak bisa lagi menahan kata-kata yang ingin dia keluarkan dari tadi. Moonkyu-lah yang mengajaknya bicara, jadi Moonkyu jugalah yang harus memulai pembicaraan. Bukan dia.

Egois? Tentu saja. Tapi untuk kali ini Hojung ingin Moonkyu merasakan keegoisannya yang terakhir, sebelum akhirnya Moonkyu bisa menemui kebahagiannya sendiri.

“Aku…..ingin minta maaf soal…” 

Moonkyu kehilangan kalimatnya, dan Hojung menghela napasnya sebelum berkata lirih, “Hansol-ie, right?”

Moonkyu mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum berkata, “Oh…”

Moonkyu memberanikan dirinya menatap Hojung, yang entah kenapa malah tersenyum, dan kemudian buru-buru menunduk menatap kakinya, “Aku sudah membulatkan tekadku, Hojung-ah. Aku ingin berhenti menjadi trainee di sini.”

“Karena Hansol-ie?”

Moonkyu mengangkat kepalanya, membuang pandang ke sembarang arah, sambil mengedip-ngedipkan matanya frustasi. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Hojung. 

Hojung memantapkan hatinya dan berkata, “Aku benar ‘kan?”

“Eung.”

“Aku mengerti.” kata Hojung sambil berdiri tegak, berusaha meninggalkan Moonkyu secepat yang dia bisa.

“Kau tak mau dengar alasanku, Hojung?”

“Alasan kau pergi karena Hansol kan?”

“Itu benar, tapi…”

“Moonkyu, sudah cukup.” kata Hojung, yang berusaha tetap tenang, “Aku tak apa-apa karena aku tahu seperti apa sikapmu ketika menemui orang seperti Hansol. I’m your best friend right?”

Moonkyu menggigit bibirnya, dia mencoba membaca ekspresi Hojung selama beberapa detik sebelum akhirnya dia sedikit terkejut ketika Hojung tiba-tiba memeluknya singkat dan menepuk punggungnya, “Kka~ Hansol sedang menunggumu, bukan begitu?”

Tanpa menolehkan badannya untuk melihat Moonkyu untuk yang terakhir kali, Hojung melangkah mantap menuju pintu. Dadanya terasa sesak tapi setidaknya dia merasakan suatu kelegaan, suatu kebahagiaan semu. Karena Moonkyu, sudah berlari pergi, merasakan kebebasannya.
***
Pertama kali Moonkyu bertemu dengan Hansol adalah musim gugur, 1 tahun silam, saat dia dan Hojung sering berkeliaran di Hongdae, berusaha menarik perhatian para agen pencari bakat yang seringkali bersembunyi di sudut jalan. 

Kala itu, Hansol, mengenakan pakaian aneh, mirip kain yang dililitkan ke tubuhnya. Dia berjalan ke salah satu sudut jalan yang dikerumuni beberapa orang, yang seolah menunggu sesuatu. Tak lama Hansol menggerakkan badannya, mengikuti irama musik yang baru saja diputar entah oleh siapa. Dia menari. 

Moonkyu tak butuh sikutan Hojung di perutnya untuk menyadari bahwa Hansol penari berbakat. Seolah tertarik dengan magnet tak terlihat, Moonkyu berjalan mendekat ke arah tempat Hansol sedang menari.

Dirinya tersihir, ada sesuatu yang membuatnya tak bisa melepaskan pandangan dari gerakan Hansol. Samar-samar dia mendengar gadis-gadis yang mengobrol tak jauh dari tempatnya dan Hojung berdiri. 

“Bukankah dia sangat tampan?”

“Kau benar! Aku menyesal baru mengiyakan ajakanmu sekarang! Tampan sekali Hansol itu!”

Hansol. Hansol. Moonkyu mengucapkan nama itu di dalam hatinya berkali-kali. Sekaligus mengingatkan dirinya sendiri untuk menyapa Hansol setelah dia selesai perform nanti. Riuh sorak sorai dan tepuk tangan di sekelilingnya menyadarkan Moonkyu dari lamunannya. Hansol sudah selesai menari dan sibuk membungkuk hormat ke arah kerumunan orang yang menontonnya.

“Ayo!”

“Ah…eng..aku tiba-tiba sakit perut. Kau pergi saja duluan.” 

Hojung hanya mengumamkan ya nya dengan perlahan dan berbalik meninggalkan Moonkyu. Moonkyu buru-buru berjinjit, berusaha mencari sosok Hansol yang sudah menghilang. Dia berjalan cepat, menerobos kerumunan orang di depannya sedikit panik. Dia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Moonkyu beruntung. Hansol sedang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Moonkyu berjalan cepat sambil berkata maaf ke setiap orang yang tak sengaja dia tabrak.

Moonkyu memegang lututnya, nafasnya terengah engah begitu dia berdiri tepat di hadapan Hansol. Moonkyu tahu Hansol pasti sedang menatapnya keheranan, atau mungkin mengira bahwa dia adalah orang tak waras. Meski begitu Moonkyu menegakkan badannya, mengulurkan tangannya dan berkata, “Kim Moonkyu. Kau?”

Hansol menatapnya selama beberapa detik dan kemudian menjabat tangannya, dan berkata, “Hansol. Ji Hansol.”
***
Meski bisa dibilang cara Moonkyu bertemu dan berkenalan dengan Hansol sedikit aneh, tapi toh tidak merubah kenyataan bahwa Hansol kini menjadi salah satu teman dekatnya. Setelah Hojung tentu saja.

Moonkyu dan Hansol sering bertemu di sekitaran Hongdae, dekat dengan tempat Hansol biasa menari. Terkadang Hojung ikut bersamanya, tapi Hojung lebih banyak pergi berkeliling Hongdae seorang diri, ketika Moonkyu dan Hansol bertemu. Dan untuk kali ini pun, saat Moonkyu dan Hansol menari di sudut jalan Hongdae malam itu, Hojung tak datang.

“Jadi…” kata Hansol sambil mengelap keringat dari wajahnya, “Kau dan Hojung sudah resmi menjadi trainee Star Crew?”

“Yap. Kami berdua ditelepon tadi pagi dan siang ini kami baru saja dari sana, memastikan kalau kami benar-benar diterima sebagai trainee.”

“Selamat kalau begitu.” kata Hansol, yang entah kenapa terdengar seperti sedang mencemooh Moonkyu, “Selangkah lebih dekat dengan mimpimu, bukan begitu?”

Moonkyu terkejut dengan kalimat Hansol barusan. Tanpa sadar dia menggumam, “Mimpi?”

“Benar ‘kan?Kau punya mimpi untuk menjadi idol, dan setelah kini kau resmi menjadi trainee, kau telah selangkah lebih dekat dengan mimpimu.”

Moonkyu terpaku. Selangkah lagi lebih dekat dengan mimpi, katanya?

“Mimpi ya?” gumam Moonkyu ragu-ragu. Hansol menyadari bahwa Moonkyu hanya menatapnya kosong, buru buru melambaikan tangannya di depan wajah Moonkyu dan berkata, “Kau tak apa?”

Moonkyu mengangguk. Sejauh yang dia bisa ingat, yang bisa dia sadari, menjadi idol hanyalah sebuah celetukan tak sengaja dari bibir Hojung saat sekolah menengah dulu. Tanpa sadar dia mengiyakan celetukan itu dan kini kata-kata Hansol mengusik perasaannya. Sebenarnya, apa yang selalu dia impikan?

“Hansol-ie.”

“Mm.”

“Apa mimpimu?”

“Aku?” tanya Hansol sambil menatap wajah Moonkyu, “Seorang penari jalanan.”

Moonkyu kehilangan kata-katanya. Mulutnya menganga lebar karena tidak menyangka dengan jawaban Hansol.

Hansol tertawa dan untuk pertama kalinya Moonkyu melihat deretan gigi Ciptadent Hansol (Sori cil, hayang ngareceh XD), “Wae, Moonkyu? Kaget dengan jawabanku?”

“Tentu saja! Mimpimu itu terlalu….”

“Rendah?” tanya Hansol.

“Aku..aku tak bilang begitu.” kata Moonkyu buru-buru, takut Hansol merasa tersinggung karena mimpinya diremehkan.

“Aku belum selesai. Mimpiku memang hanya sebatas menjadi penari jalanan. Tapi aku ingin jadi penari jalanan yang diakui dunia. Pergi travelling dari satu negara ke negara lain, mencoba collaboration stage dengan penari jalanan lainnya. Bagaimana? Sekarang kau pasti berpikir bahwa mimpiku akan sulit dicapai ‘kan?”

Moonkyu buru-buru mengangguk. Hansol tertawa lagi, “Begitupun ibuku. Dia menganggap mimpiku sangat tidak realistis. Makanya ketika aku memutuskan untuk berhenti sekolah saat sekolah menengah, ibuku sudah tak menganggapku anak.”

Mulut Moonkyu baru saja terbuka karena dia ingin melontarkan pertanyaan kepada Hansol, namun rupanya Hansol belum selesai bercerita karena kemudian Hansol melanjutkan ceritanya, “Beruntunglah paman dari sepupu ibu mau menerimaku untuk tinggal di rumahnya sampai aku cukup umur untuk bepergian seorang diri.”

“Aku baik-baik saja Moonkyu-ah, jangan khawatir. Paman mengajarkanku banyak keahlian supaya aku tetap bisa bertahan hidup meski hanya menjadi penari jalanan.”

Moonkyu mengangguk. Untuk pertama kalinya, dia baru menyadari bahwa selama ini dia bukan mengagumi Hansol karena kemampuan dancenya yang di atas rata-rata. Dia baru menyadari bahwa selama ini, dia iri pada Hansol. Dia iri karena Hansol bisa dengan bebas menginterpretasikan ritme yang didengarkan menjadi sebuah tarian. Dia iri karena Hansol bisa mengekspresikan perasaannya sebebas mungkin di jalanan Hongdae. Dia iri karena Hansol tak perlu terikat dengan sebuah aturan hanya untuk mengekspresikan dirinya. Moonkyu menarik napasnya pelan, dan menatap Hansol lurus-lurus.

“Hansol-ie.”

“Hmm?”

“Kau tahu, untuk pertama kalinya, aku merasa iri padamu.”

“Iri?”

Moonkyu mengangguk, “Kau memiliki mimpi yang begitu besar. Mimpiku menjadi idol seperti debu jika dibandingkan dengan mimpimu.”

Hansol menggeleng, “Moonkyu-ah, tak ada istilah mimpi yang kecil ataupun besar. Semua mimpi itu berharga. Dan bagiku, mimpimu juga tak kalah besar. Menjadi idol itu sangatlah berat dan kupikir tak semua orang kuat menanggung sisi gelapnya.”

“Tapi…”

“Bukankah untuk sesaat tadi kau meragukan mimpiku karena kau tahu betapa sulitnya kehidupanku jika hanya menjadi penari jalanan? Bagaimana aku bisa mendapatkan makanan dan tempat tinggal?”

“Ya, tapi..”

“Memimpikan sesuatu memang mudah. Tapi yang sulit adalah mewujudkannya. Makanya, jangan pernah kau meremehkan mimpi orang lain, karena kau tidak pernah tahu, apa yang mereka korbankan hanya untuk meraih mimpi itu.”
***
Setelah pertemuannya dengan Hansol, Moonkyu tak lagi begitu antusias soal kehidupannya selama menjadi trainee. Dia tetap mengikuti latihan vocal dan dance secara rutin seperti biasa, namun dia tidak begitu antusias, terutama saat pelatih dance memuji kemampuan dancenya yang meningkat. Bahkan ketika evaluasi bulanan dimana dia dan Hojung mendapat nilai tertinggi, dia hanya bisa menggangguk acuh, sementara Hojung melonjak kegirangan. 

Ketika latihan dibubarkan, Moonkyu memilih duduk diam di pojok studio. Dia memejamkan matanya. Masih segar di kepalanya, isi pembicaraannya dengan Hansol soal mimpi. Benarkah menjadi idol adalah mimpinya? Atau sebenarnya dia adalah seorang manusia yang tak mempunyai mimpi dan mengikuti mimpi Hojung hanya karena dia teman dekat Hojung?

Moonkyu menghela napasnya keras dan Hojung, yang masih berada di dalam studio, akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Moonkyu semenjak collab dancenya yang terakhir dengan Hansol. Hojung mendudukkan dirinya di sebelah Moonkyu dan bertanya, “Ada sesuatu yang terjadi?”

“Ada. Mungkin. Aku tak tahu.”

“Kau mau bercerita padaku? Kulihat kau berubah, tak seantusias biasanya, terutama semenjak kau melakukan collab dance dengan Hansol di Hongdae beberapa hari yang lalu.”

“Hojung-ah, apakah menjadi idol itu mimpimu?”

“Tentu saja! Aku selalu bermimpi untuk menjadi idol terkenal. Kenapa?” Moonkyu menundukkan kepalanya dan Hojung buru-buru menambahkan kepalanya, “Bukankah kau juga?”

Moonkyu menghela napasnya. Pikirannya terlempar ke beberapa tahun lalu, saat dia dan Hojung berada di sekolah menengah. Saat mereka berdua merebahkan diri di atas lapangan seusai pelajaran olahraga. Saat Hojung menanyakan mimpinya.
“Moonkyu-ah, apa mimpimu?”

“Mimpi?” tanyanya polos, “Aku tak punya mimpi.”

“Aish. Dengan badan yang lentur seperti itu? Dengan kemampuan dance seperti itu? Kau tak punya mimpi?”

“Aku hanya punya badan lentur dan kemampuan dance yang standar. Bagaimana bisa aku memimpikan sesuatu dengan kemampuan seperti itu?”

“Tentu saja kau bisa! Kau tahu, untuk menjadi idol tidak perlu sesempurna itu! Asal kau mau belajar dance sedikit, kau bisa menjadi idol terkenal!”

“Memangnya apa mimpimu, Hojungie?”

“Menjadi idol!” katanya antusias, dia menoleh pada Moonkyu, “Bukankah menarik jika kita berdua bermimpi menjadi idol?”

“Sedikit.”

“Oh ayolah,” rengek Hojung, “Kita akan menjadi duo yang tak terkalahkan!”

Moonkyu tersenyum dan berkata, “Baiklah, ayo menjadi idol!”


Moonkyu mengangkat kepalanya dan menatap Hojung, “Hojungie, kupikir aku telah membuat kesalahan besar.”

“Kesalahan? Kesalahan apa?”

“Menjadi idol bukanlah mimpiku, Hojung.”

“Moonkyu-ah apa kau bercanda? Kau sudah sampai di tahap ini dan kau ingin menyerah?”

“Aku hanya merasa aku tak akan pernah bahagia meski sudah debut nanti.”

“Kenapa?”

“Karena ini bukan mimpiku.” jawab Moonkyu getir. Dia berusaha bangkit berdiri, namun Hojung menahan tangan Moonkyu.

“Moonkyu-ah, aku pikir kau terlalu lelah dengan semua rutinitas ini. Saranku, kau beristirahatlah selama beberapa hari.”

“Hojung-ah, keputusanku sudah bulat..”

“Moonkyu-ah. Kumohon. Beristirahatlah selama beberapa hari sebelum kau memutuskan untuk berhenti, oke?”

Melihat tatapan Hojung yang memelas, Moonkyu tak bisa lagi menolak, dia hanya mengangguk. Dia tahu tatapan itulah yang membuatnya tanpa sadar mengikuti mimpi Hojung, dan sekarang tatapan itulah yang makin membulatkan tekadnya untuk berhenti.

Moonkyu melangkahkan kakinya untuk pulang dan mendinginkan kepala namun tanpa sadar kakinya melangkah ke sudut jalan Hongdae, ke tempat Hansol sering menari. Matanya menangkap sosok Hansol yang tengah menari. Dan sekali lagi, bagaikan tertarik oleh magnet yang tak terlihat, dirinya mendekat ke kerumunan orang yang mengelilingi Hansol.

Dia tak tahu, lagu apa dan dance aliran macam apa yang Hansol bawakan pada malam itu, tapi yang jelas, ketika Moonkyu melihat Hansol, dia tertawa, seperti sedang mencemooh dirinya sendiri dan kemudian tawa itu berubah menjadi tangisan. Dimulai dari isakan kecil hingga lama kelamaan isakannya berubah menjadi semakin keras. Orang-orang pun mulai mengalihkan perhatiannya dari Hansol yang menari ke Moonkyu yang sedang menangis. Hansol yang sadar bahwa ada seseorang yang menangis, mulai kehilangan konsentrasi. Matanya menari ke segala penjuru orang yang mengerumuninya dan akhirnya dia menghentikan tariannya begitu dia menyadari bahwa Moonkyu-lah yang menangis.

Tanpa memedulikan orang yang berkerumun di sekitar Moonkyu ataupun fakta bahwa dia baru saja menghentikan penampilannya secara mendadak, Hansol buru-buru menarik tangan Moonkyu, dan membawanya ke salah satu sudut jalan yang sepi untuk menenangkan Moonkyu.

“Moonkyu-ah, ada apa?”

Moonkyu masih mengisak selama beberapa saat dan berusaha keras untuk menenangkan dirinya sesaat sebelum menjawab, “Aku tak mau menjadi idol.”

Hansol menunggu hingga Moonkyu benar-benar tenang, dan bertanya, “Wae?”

“Karena itu mimpi Hojung. Dan aku hanya mengikutinya karena aku tak punya mimpi.” katanya sesenggukan, “Bukankah aku manusia yang seperti robot? Hanya hidup untuk menunggu ajal?”

Hansol memegang pundak Moonkyu dan berkata, “Moonkyu yah, bukankah itu lebih baik jika kau menyadarinya sekarang? Bukankah akan lebih menyakitkan jika kau baru menyadarinya ketika tua nanti?”

“Aku tahu.”

“Dalam menggapai mimpi, terkadang ada orang yang berlari secepat kilat, berjalan santai, bahkan mungkin merangkak selayaknya bayi. Tapi setidaknya kita bergerak. Dan pergerakan itulah yang menandakan bahwa kita adalah manusia yang seutuhnya.”

Moonkyu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mencoba menyerap kata-kata Hansol. Dia berkata lambat-lambat, “Kau yang menyadarkan apa mimpiku yang sebenarnya, Hansol.”

“Apa itu?”

“Aku juga ingin menari bebas tanpa memperdulikan apakah aku cukup berbakat untuk menjadi seorang penari.”

Hansol tersenyum ramah seolah ingin menyemangati Moonkyu, “Mimpi yang keren, Moonkyu! Bagaimana dan kapan kau mau mulai bergerak mewujudkannya?”

“Setelah urusanku dengan Star Crew selesai. Aku harus mengundurkan diri secara resmi sebelum memulai mewujudkan mimpiku.”

“Apakah itu memakan waktu yang lama, Moonkyu?”

“Aku tak tahu.”

Hansol berusaha untuk tetap tersenyum sebelum berkata, “Berarti aku tak sempat melihatmu mewujudkan mimpimu, Moonkyu.”

“Eh? Kenapa?”

“Aku akan pergi ke Amerika.”
***
Moonkyu : Aku ingin bicara
That’s it. Skakmat. Semua rencananya untuk perlahan menyadarkan Moonkyu, bahwa dialah satu-satunya sumber semangat bagi Hojung, hancur berantakan. Semenjak Moonkyu bercerita dengan antusias bagaimana dia bertemu dan berkenalan dengan Hansol, dia sudah tahu bahwa Moonkyu tak akan pernah berada di sisinya seperti dulu. 

Dia tahu, bagaimana cara Moonkyu memandang Hansol. Penuh binar bahagia dan tulus karena dia benar benar mengagumi Hansol yang rela mengeluarkan bakatnya hanya di jalanan. Dia juga tahu, bagaimana Hansol bisa merubah gerakan dance Moonkyu yang kaku menjadi rileks setiap mereka mengadakan collab dance di Hongdae. 

Dia sadar. Hansol lah yang membuat Moonkyu menjadi begitu antusias saat latihan dance, menikmati semua sesi latihan dengan sabar tanpa menggerutu seperti saat dia dan Moonkyu latihan berdua sebelum menjadi trainee. Dan Hansol pula lah yang membuat Moonkyu sadar, bahwa idol bukan pilihannya. 

Karma? 

Entah, Hojung tak paham mengenai sistematika hukum karma. Apakah ini semua hanya bom waktu karena Hojunglah yang menyeret Moonkyu menjadi idol bersamanya? Hojung sama sekali tak tahu. Yang jelas, tak ada yang perlu disalahkan dalam keadaan seperti ini. Hojung hanya menyalahkan dirinya sekali, kenapa dia segan untuk mengakui bahwa dia menyukai Moonkyu sejak lama. Dan Hojung masih juga tidak paham hingga saat ini, kenapa rasa suka itu berubah menjadi sifat posesif dimana dia ingin Moonkyu terus berada di sisinya, meski Moonkyu harus rela membuang mimpinya. Hojung baru menyadari bahwa semakin lama Moonkyu disisinya, semakin menderita pula Moonkyu karenanya. Dan wajar saja jika Moonkyu memberontak, ingin bahagia dan memperjuangkan mimpinya sendiri.

Hojung melirik jamnya. Tinggal 10 menit sebelum dia bertemu Moonkyu di rooftop. Hojung membulatkan tekadnya untuk memusnahkan seluruh perasaan Moonkyu, membiarkan dirinya dipenuhi dengan kebahagiaan semu dengan berkata, “At least, I’m still his best friend after all.”
***
Las Vegas
Hansol terengah kehabisan napas. Kalau bukan karena Roy, harusnya saat ini dia masih hidup bagai gelandangan di New York. Dia pikir, Las Vegas adalah tempat yang salah untuk memulai mimpinya sebagai penari jalanan. Tapi rupanya, pikirannya salah. Karena New York tak seramah yang dikiranya, dan seandainya Roy terlambat datang ke tempat Hansol menari, mungkin Ji Hansol berakhir sebagai laki-laki boneka seks belaka.

Awalnya dia sempat takut pada Roy, karena Roy sama sekali tak menunjukkan wajah seorang dancer. Roy lebih mirip mafia ketimbang dancer, dan itulah mengapa saat Roy menawari Hansol untuk bergabung ke kelompok penari jalanan miliknya, Hansol menolak mentah-mentah tawarannya. Dia lebih percaya pada tiga babi itu, yang kemudian nyaris menjualnya pada pria gila seks di salah satu club gay di New York.

Setelah melihat Roy yang menolongnya dari tiga babi itu (Roy ternyata memang seorang dancer dengan tampang mafia), Hansol akhirnya mengiyakan ajakan Roy untuk bergabung dengan kelompok penari jalanan miliknya dan kini Hansol sudah berada ke Las Vegas, menjadi back-up dancer atau backdancer dari beberapa artis yang tampil di club atau casino yang ada di setiap sudut Las Vegas. 

Dan sekarang, disinilah dia. Terengah kehabisan nafas di toilet pria salah satu casino terbesar di Las Vegas. Dia sudah menari nyaris selama dua jam penuh dan sekarang dia sedang menunggu Roy menjemputnya. Dia membuka ponselnya, mengirimi Roy beberapa pesan singkat untuk segera datang karena dia sudah muak dengan kepulan asap rokok yang memenuhi casino. 

Tanpa sadar, tangannya tergerak untuk membuka Kakao Talknya. Berharap Moonkyu mau mengiriminya pesan baru. Tapi sayangnya pesan terakhir dari Moonkyu masih sama. 
Moonkyu : Maukah kau menungguku?
Dan pesan singkat itu masuk ke ponselnya sebulan yang lalu. Hansol tahu, pasti situasi akan semakin sulit jika Moonkyu mengiriminya pesan singkat setiap hari, mengingat dia harus mengundurkan diri dari Star Crew dan mulai berjalan perlahan mewujudkan mimpinya. Tapi setidaknya, bolehkah Hansol sedikit berharap bahwa mimpi yang dituju oleh Moonkyu adalah mimpi yang sama dengannya?

Hansol sadar, kepercayaan dirinya mungkin terlalu berlebihan, tapi mengingat Moonkyu yang nekat mengajaknya berkenalan di Hongdae pada waktu itu, membuat dirinya memiliki sebuah perasaan bahwa Moonkyu akan memilih jalan yang sama dengannya dan berada di sisinya sampai akhir. 

Hansol masih memikirkan dimanakah Moonkyu berada sekarang, sampai dia tak sadar bahwa Roy sudah berada di depannya, dan menggumam tak jelas, “Let’s go Hans..”

Hansol dan Roy sama sama terdiam dalam perjalanan pulangnya menuju basecamp. Roy diam karena dia tahu Hansol paling tidak suka jika dia perform di tempat tertutup, apalagi banyak asap rokok, dan Hansol diam karena dia merindukan Moonkyu. 

“Hey Hans~”

“Yeah?”

“Aku melihat pria Korea saat aku membeli minuman di Walmart. Dia menanyakanku apakah aku tahu tempat dimana dia bisa tinggal selama beberapa saat.”

“Pria Korea?”

“Yeah, dan entah mengapa aku teringat padamu saat melihatnya.”

Pikiran Hansol berkecamuk. Mungkinkah itu Moonkyu?

“Kau tak tanya siapa namanya, Roy?”

“Tentu saja. Aku bahkan memberinya kartu nama jika seandainya dia tidak bisa menemukan tempat untuk tinggal selama beberapa saat, aku akan menawarinya tinggal di basecamp.”

“Jadi siapa namanya?”

“Tim? or Timmy? I don’t know Hans. Bahasa Inggrisnya payah.”

Hati Hansol mencelos. Sudah jelas bahwa pria yang dimaksud Roy bukanlah Moonkyu. Dia hanya bisa berdoa, dia masih sempat melihat Moonkyu meraih mimpinya selama dia masih hidup.
***
Moonkyu tak bisa mempercayai apa yang sedang dia lihat sekarang. Dia begitu mengenali sosok yang berjalan di samping Roy. Dan terus terang dia berharap bahwa apa yang dia lihat bukanlah imajinasi belaka. Tanpa sadar dia berteriak, memanggil nama seseorang yang begitu dirindukannya, dan membuat Roy terbelalak kaget, “Hansol-ie?”

“Moonkyu-ah?”

“Hans, kau kenal dengan Tim?”

Dan baik Hansol ataupun Moonkyu mengabaikan pertanyaan Roy. Mereka sibuk berpelukan, berusaha mengusir kegundahan masing-masing. 

Moonkyu dengan segala kegundahannya, bahwa niatnya mencari Hansol sembari mewujudkan mimpinya adalah suatu kesalahan.

Hansol dengan kegundahannya, bahwa keinginannya mewujudkan mimpinya sekaligus dia ingin menemani Moonkyu mewujudkan mimpinya adalah hal yang paling egois yang pernah dia pikirkan.

Dan malam ini, dibawah langit Las Vegas, mereka sama-sama membuktikan bahwa kegundahan mereka tak ada artinya. Sudah saatnya bagi Hansol dan Moonkyu berjalan beriringan mewujudkan mimpi masing-masing, saling menguatkan ketika salah satu dari mereka lelah. 

Dan semuanya, dimulai dari Moonkyu yang terbius dan tergila-gila oleh tarian Hansol. 
“Kim Moonkyu, kau?”

“Hansol. Ji Hansol.”

END

Advertisements

2 thoughts on “[ FF Timoteo x Hansol | Blurry Dream (One Shoot – Requested)

  1. WAAHHHHHHH QIWIIIII AKU TAK TAU HARUS BERKATA APAAAA 😍😍 INI FF PERTAMA YANG AKU BACA SELAIN FF ONKEY 😂😂 /SUMPAH/ Gimana yaaa da dari awal gue yang minta alur ceritanya dan SUKA SIH SUKA Aslinya gue baper demi apapun timo duhhhh Brothership yang menjurus tuh emang haduhhhh baper tingkat dewaaa 😳😳 Masalah kosa kata atau penulisan ga gua pikirin 😂😂 menurut gue mah udh dabest da cocok sama aku mah .. CERITANYA ITU LOH BIKIN GUE GIGIT SELIMUT !!!!! TAPI MAU PROTES KENAPA NAMA OM2 YANG AJAK HANSOL HARUS ROY ( yang terbenak di kepala urg jadi roy marteen 😢 ) /receh/…. HOLY MOLY BANGET IMAJINASIKU KEMBALI 🙌🙌🙌🙌🙌🙌 love you lah aku ga bisa bales pake ff 😳 aku mah bales pake doa aja semoga qiwi segera punya cerita sama jodohnya /EAAAA BYE. 😘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s