[ FF EunKang / Jyonhoon | The Deathberry – Part 2 (BAHASA VERS)

1497492672634

 

Disclaimer :

Sampai detik ini, gue masih tidak menyangka kalau The Deathberry akan se’gelap’ ini. Entah gue harus seneng ato sedih, karena ide awal The Deathberry muncul ketika mental gue gak sehat dan kemajuan update The Deathberry secara gak langsung menandakan kesehatan mental gue belum ada kemajuan.

Apapun itu, gue hanya bisa bilang, selamat menikmati. The Deathberry memang kerasa lebih panjang setiap partnya, karena gue memang menargetkan The Deathberry tamat di 5 part. XD

Selamat pusing, dan selamat menikmati.

 

***

 

D – 41

Sunghoon menjentikkan jarinya, seolah memanggil sesuatu ke hadapannya, tak lama, sebuah buku tebal jatuh begitu saja dari atap menuju tangannya yang terbuka dan gumamnya, “Aku harus mengecek pasal delapan belas untuk kejadian seperti ini..”
“Hei, rambut putih. Jangan mengabaikan aku. Kau belum menjawab pertanyaanmu dan sekarang kau menjentikkan jarimu dan merapal sesuatu. Apa kau memanggil teman-temanmu?”
Sunghoon mencelos. Jiwon benar-benar bisa melihatnya. Dia tak punya pilihan lain selain menyilangkan kakinya dan berkata dengan nada menjebak, “Apakah Jiwon-ssi penasaran denganku?”
“Tentu saja!”
Sunghoon menunjuk jam dinding di dekatnya, “Bukankah ini waktunya untuk bekerja di bar?”
“Aishhh, bagaimana kau tahu aku bekerja di bar?” tanya Jiwon, setengah kesal, setengah penasaran, “Aku tahu aku harus berangkat ke bar sekarang, tapi rasa penasaranku mengalahkan rasa bersalahku karena…”
“Stop.” kata Sunghoon tajam, “Jangan bicara apapun lagi. Aku tak mau Seunghyun atau Seungyoon tiba-tiba datang ke sini mencatat amalmu dan menggerecoki masalah kita.”
“Seungyoon? Seunghyun? Kita?” kata Jiwon, “Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Jiwon-ssi sebaiknya bersiap-siap untuk pergi ke bar. Aku berjanji akan memberitahukan siapa aku dan tujuanku membuntutimu beberapa hari ini nanti dan aku harap Seungyoon dan Seunghyun tidak berkeliaran di sekitar kita.”
Jiwon mengatupkan mulutnya yang terbuka, berusaha menahan diri untuk bertanya lebih lanjut. Dia terlihat kebingungan sebelum akhirnya, “Baik. Boleh aku bertanya satu hal dulu?”
“Silahkan.”
“Apa kau hantu?”
“Tentu saja bukan. Silakan bersiap-siap Eun Jiwon-ssi, Anda bisa terlambat.”

 

***

 

Lagi-lagi Jiwon melihat sekelebat bayangan hitam di sebelah si rambut putih. Meskipun si rambut putih sudah mengatakan padanya untuk berpura-pura tak menyadari kehadirannya, tapi toh secara tak sadar Jiwon terus menerus melirik ke arah tempat si rambut putih berdiam.
“Jiwon-ssi, bisakah kau membantuku membersihkan meja di depan?”
“Ah..oke.”
Seungyoon mengawasi Jiwon, menunggunya hingga keluar pantry dan bertanya, “Apakah ini hanya perasaanku atau Jiwon dari tadi memandangi kita?”
“Tentu saja itu perasaanmu.” kata Sunghoon acuh sambil membolak balik halaman dari buku yang dipegangnya.
“Oh,” ejek Seungyoon, “Sunghoon, malaikat maut yang memiliki nama The Deathberry, sekarang sedang membaca peraturan dasar khayangan. Sedang menyusun rencana mencabut nyawa Eun Jiwon tanpa melanggar peraturan?”
“Seungyoon-ah, kalau kau kemari bukannya melakukan tugasmu sebagai pencatat amal baik dan malah menggerecokiku, lebih baik kau segera pergi.” kata Sunghoon yang kini sudah frustasi karena tak menemukan apa yang dia mau, “kecuali kau mau membantuku.”
Seungyoon menatap Sunghoon serius dan berkata lambat-lambat, “Aku tidak yakin.”
“Oke. Tak masalah kalau kau tak mau membantu.” kata Sunghoon datar dan kemudian menjentikkan jemarinya. Buku di pangkuannya menghilang dan digantikan buku bersampul kulit yang tak kalah tebal dan bergumam pelan, “Aku tak bisa mengingat dimana aku membaca soal kejadian langka itu.”
Sunghoon menjentikkan jemarinya lagi, menggumamkan tak jelas dan kemudian mengganti buku di pangkuannya dengan buku lain. Sunghoon menjentikkan jemarinya sekali lagi, dan buku di pangkuannya digantikan oleh buku lain lagi.
“Apa sih yang kau cari?”
“Sudah memutuskan mau membantu?” tanya Sunghoon yang baru saja membuka buku ke empat.
“Mungkin. Soalnya kau memanggil buku buku lama…Buku hukum langit, buku hukum bumi, buku larangan malaikat…apa sih yang kau cari?”
“Hukum yang mengatur kejadian-kejadian langka. Seingatku, ada beberapa kejadian langka yang tidak diatur dalam hukum itu. Yuka sama sekali tak mau membantuku karena sudah sepatutnya semua malaikat yang bertugas di bumi hapal soal hukum hukum seperti itu.”
“Yuka tidak salah sih.”
“Dia selalu pura-pura lupa kalau aku seorang eksekutor. Malaikat yang paling tidak ‘malaikat’. Jadi bukankah wajar jika aku membenci segala sesuatu yang bersifat administratif seperti ini?”
“Tapi kan kau sudah dipindah ke kayangan semenjak 10 tahun lalu jadi…”
“Kau mau membantuku apa tidak?”
“Er baiklah.”
“Bisakah kau memberitahuku dimana aku bisa menemukan soal manusia yang tiba-tiba melihat malaikat pencabut nyawa?”
“Oh itu,” Seungyoon menjentikkan jemarinya, dan sebuah buku tipis melayang di depan Sunghoon, “Kau harus membaca ulang soal kategori kejadian langka nanti kalau kau masih mau menjadi malaikat pencabut nyawa.”
“Ya..ya..ya..terserah. Aku lebih senang menjadi seorang eksekutor.”
“Kau harus menemukannya di rak penyelidikan, bukannya di rak hukum dasar.” kata Seungyoon sambil menulis dalam diam, “Eh, kenapa kau tiba-tiba mencari soal kejadian langka? Ada sesuatu yang terjadi?”
“Berdasarkan kasus yang terjadi selama dua abad terakhir, divisi penyelidikan memutuskan bahwa kejadian dimana manusia bisa melihat malaikat pencabut nyawa tidak bisa dikategorikan sebagai kejadian langka……oke aman.”
“Hei..hei..hei…baca sampai akhir, Sunghoon sialan..”
“Meskipun begitu, jika manusia yang melihat malaikat pencabut nyawa adalah manusia di luar target malaikat pencabut nyawa ataupun manusia yang diklasifikasikan sebagaimana yang tercantum di bawah ini, dimohon untuk malaikat pencabut nyawa bersangkutan untuk segera melimpahkan surat tugasnya ke divisi khusus…..Sudah kubilang aman, Seungyoon yang sok pintar.”
“Tunggu….jadi siapa yang baru saja bisa melihatmu?”
“Menurutmu siapa?”
“Eun Jiwon?”
“Kau punya referensi lain?”
“Jawab dulu pertanyaanku.”
“Yap. Dia bisa melihatku.” kata Sunghoon datar.
Seungyoon menjentikkan jemarinya, dan setumpuk buku melayang di hadapan Sunghoon, “Jadi kukira sekarang rencanamu berantakan bukan begitu?”
“Rencanaku bahkan ditolak mentah-mentah Yuka. Aku lupa bahwa idol wanita itu kasus pengecualian, jadi aku boleh melakukan apa saja, asal nyawanya bisa kembali ke kayangan. Eun Jiwon bukan manusia yang spesial jadi aku tak bisa memakai rencana yang sama seperti idol wanita itu.” kata Sunghoon, “Boleh aku pinjam ini?”
“Tentu saja. Jadi apa yang kau mau lakukan sekarang?”
“Aku berencana memberitahunya yang sesungguhnya. Tapi aku harus berkonsultasi dengan divisi penyelidikan dan divisi hukum.” kata Sunghoon, “Kau tahu, aku takut rencanaku berubah hanya karena aku melanggar beberapa pasal hukum bumi.”
“Tumben..tak biasanya kau sewaspada ini Sunghoon.”
Sunghoon tersenyum dan memanggil buku buku lain ke dalam pangkuannya, “Terimakasih mau membantuku, Seungyoon.”
Seungyoon membelalakkan matanya tak percaya, begitu menyadari banyaknya buku yang dipinjam Sunghoon, “Sebenarnya apa sih yang kau rencanakan untuk manusia biasa seperti Jiwon?”
“Ra-ha-si-a. Nah, berhubung kau sudah selesai mencatat amal baik di sini, kau sebaiknya cepat pergi.”
Seungyoon yang sadar bahwa Sunghoon sedang mengusir dirinya secara halus, mengumam, “Selamat malam Sunghoon.”

 

***

 

Terminal Bus Seoul, 11.40 PM

 

“Sunghoon-ssi, bisakah kau berhenti melayang-layang seperti itu?”
“Eh?” Sunghoon menggigit bibirnya, “Jika Jiwon-ssi tidak suka lebih baik begini saja,” Sunghoon menjentikkan jemarinya, dan membuat dirinya diselubungi asap putih selama sepersekian detik dan muncul di depan Jiwon dengan pakaian serba putih, “Memang seharusnya aku menyamar jadi manusia semenjak kita meninggalkan bar.”
“Hah?”
“Kau tahu, sepanjang jalan orang-orang mengira kau adalah orang tidak waras karena berbicara sendiri.”
“Bukankah kau sumber masalahnya? Menanyaiku sepanjang jalan soal kenapa aku bisa hidup seperti ini?”
Sunghoon tersenyum, “Maaf. Aku perlu tahu semua kisah hidupmu sebelum kau kembali ke khayangan.”
Jiwon dan Sunghoon berjalan beriringan menuju loket. Jiwon mendekati counter dan bertanya, “Masih ada tempat tersisa untuk bis terakhir ke Mokpo?”
“Untuk berapa orang?”
“Dua.” kata Sunghoon tiba-tiba sambil menyodorkan uang.
“Busnya berangkat sekitar 15 menit lagi, dan ini kembaliannya. Terimakasih dan selamat malam.”
“Malam.”
Sunghoon sedikit menarik tangan Jiwon, mengajaknya berjalan menuju peron, “Kau barusan berniat untuk membayari tiketku juga ‘kan?”
“Mmm, kupikir malaikat tak punya uang manusia.”
“Jiwon-ssi, kekuatan malaikat itu nyaris tak terbatas. Kalau hanya sekedar uang sih, itu masalah kecil.” kata Sunghoon, “Untuk sementara, berhentilah bersikap baik sampai kita keluar dari Seoul.”
“Kenapa?”
“Aku tak mau Seungyoon datang kemari dan mengacaukan rencanaku.”
Sudah tiga kali nama Seungyoon disebutkan oleh Sunghoon, dan entah kenapa Jiwon merasa tidak senang dengan hal itu. Ada setitik kebencian mencuat ketika mendengar Sunghoon menyebutkan nama itu.

 

F BAR, 1 JAM YANG LALU

 

Jiwon kembali ke bagian belakang bar, tempat dia biasa melakukan pekerjaannya, dia memandang berkeliling, mencari si rambut putih selama beberapa saat, sampai akhirnya dia mendongakkan kepala dan mendapati Sunghoon sedang melayang dekat langit-langit.
“Hei kau.”panggil Jiwon dan membuat Sunghoon sedikit tersentak kaget, seolah tak menyadari bahwa Jiwon sudah kembali ke ruangannya. “Bisakah kita bicara sekarang?”
Sunghoon menjentikkan jarinya, dan membuat kacamata yang bertengger di hidungnya hilang sekejap dan berkata, “Tentu saja.”
Sunghoon melayang turun dari langit-langit, dan duduk menyilakan kakinya, namun masih melayang.
“Bisakah kau duduk normal di atas kursi?”tanya Jiwon.
Sunghoon menjentikkan jarinya lagi dan sebuah kursi muncul begitu saja di seberang meja, dan Sunghoon mendudukkan dirinya.
Jiwon menarik napasnya dalam-dalam sebelum bertanya, “Siapa kau? Dan apa tujuanmu datang kemari?”
Sunghoon memasang wajah seriusnya dan berkata, “Sebelum aku menjawabnya, berjanjilah padaku bahwa semua hal yang kita obrolkan ini hanya rahasia kita berdua saja.”
Jiwon mengangguk cepat, “Aku berjanji.”
Sunghoon terdiam sesaat dan berkata, “Aku, Sunghoon. Malaikat yang bertugas untuk mencabut nyawamu.”
Jiwon mencerna kata-kata Sunghoon. Jiwon menundukkan kepalanya selama beberapa saat dan kemudian menatap Sunghoon, “Aku..aish…well…,” Jiwon kehilangan kata-katanya. Dia gagal berusaha tenang dan kini dia membuka mulutnya lagi, “Akhirnya. Jadi aku akan meninggal, betul?”
“Betul.”
Pikiran Jiwon berkecamuk. Jaejin yang terbaring koma, Jaeduk yang harus membagi waktu antara bertugas di kantor polisi dan juga merawat Jaejin, ibu kandung yang tak pernah ia kunjungi semenjak dia memutuskan untuk menangani kasus korupsi besar, memenuhi kepalanya. Jiwon menutup matanya sebentar berusaha menenangkan diri sebelum kembali bertanya, “Apakah kau tidak akan memberitahuku berapa hari lagi aku akan mati?”
Sunghoon terkesiap. Dia terlihat kaget selama sepersekian detik sebelum tersenyum, “Betul. Itu pertanyaan terlarang. Aku hanya bisa memberitahumu bahwa sisa hidupmu sudak tak lama lagi.”
“Ah…”
“Pasti banyak hal yang ingin kau lakukan sebelum pergi, bukan begitu Jiwon-ssi?”
Ekspresi Jiwon sangat sulit untuk ditebak, dan Sunghoon memahaminya. Terkadang, mengetahui bahwa ajal mendekat, tak membuat semua kesalahpahaman yang terjadi akan selesai dengan begitu saja. Jiwon menatap jam dinding di belakang Sunghoon dan mendesah.
“Ada apa?”
Jiwon menggeleng dan tersenyum, “Bukan sesuatu yang penting.”
“Tolong jangan berbohong.” kata Sunghoon serius, “Meskipun kau sedang berbohong pada malaikat pencabut nyawa, bukan berarti kau bisa lolos dari catatan malaikat pencatat amal buruk.”
Jiwon tiba-tiba teringat sesuatu saat Sunghoon menyebutkan malaikat pencatat amal buruk dan bertanya, “Jadi bayangan hitam yang tadi berada di sebelahmu saat aku membereskan botol soju adalah malaikat pencatat amal buruk?”
“Oh kau bisa melihat Seungyoon?”
“Hanya sekelebat. Rambutnya pirang dan memakai baju serba hitam.”
Jiwon membaca ekspresi muka Sunghoon yang terlihat kaget. Sunghoon menghilang selama beberapa detik dan muncul kembali di kursi.
“Ah, maafkan aku. Ada panggilan dari langit. Sampai dimana kita tadi?”
“Bayangan hitam tadi. Apa dia malaikat pencatat amal buruk?”
“Bukan. Dia malaikat pencatat amal baik.” Sunghoon memandang berkeliling, seolah memastikan sesuatu, “Jiwon-ssi, kau punya beberapa permintaan terakhir sebelum kau pergi? Selama hal itu tidak melanggar hukum bumi ataupun hukum langit, aku akan membantumu.”
“Untuk saat ini, aku hanya bisa memikirkan satu hal.”
“Ya?”
“Aku ingin bertemu ibuku.”

 

***

 

Bis yang Jiwon tumpangi sudah meninggalkan Seoul. Pemandangan yang penuh dengan gedung pencakar langit, kini digantikan dengan langit bermandikan bintang. Dia memandang kosong ke arah jalanan dan menghembuskan napasnya dengan berat.
“Boleh aku bicara sesuatu, Jiwon-ssi?”
Jiwon sedikit terlonjak kaget. Dia lupa bahwa Sunghoon sedari tadi duduk di sebelahnya dan kemudian menoleh padanya, “Ya…tentu saja.”
“Apa kau yakin bahwa kau baik-baik saja? Kau terlihat aneh semenjak kau menceritakan kisah hidupmu selama perjalanan kita menuju terminal bus.”
“Aku merasa aku baik-baik saja, tapi aku juga merasa aku sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Mungkin aku masih kaget bahwa kau adalah malaikat pencabut nyawa dan aku akan mati.”
Sunghoon menutup buku yang tengah dibacanya, dan menatap Jiwon, “Kau tahu, selama aku bertugas menjadi malaikat pencabut nyawa, kau adalah manusia pertama yang tidak heboh setelah tahu bahwa kau akan mati sebentar lagi.”
“Semenjak aku diterima di kepolisian, aku selalu siap dengan kematian. Kematian adalah hal yang lumrah bagi polisi seperti aku.”
Jiwon mengalihkan pandangannya dari wajah Sunghoon ke buku yang berada di pangkuannya, “Laporan Penyelidikan Kasus Langka tahun 1874. Apa yang sedang kau baca, Sunghoon-ssi?”
Sunghoon membelalakkan matanya, “Kau bisa lihat buku ini?”
“Tentu saja. Apakah seharusnya aku tidak bisa melihat buku ini?”
Sunghoon mengangguk gelisah, “Kau benar-benar di luar dugaanku, Jiwon-ssi. Hari ini kau sudah mengagetkanku karena kau ternyata bisa melihatku, kemudian kau juga bisa melihat sosok malaikat lain meskipun hanya samar-samar. Dan sekarang, kau mengejutkanku lagi karena kau bisa melihat buku yang hanya bisa dilihat oleh malaikat.”
Jiwon menyadari kegelisahan Sunghoon, “Sunghoon-ssi, daripada kau mengkhawatirkan keadaanku saat ini, bukankah lebih baik jika kau mengkhawatirkan dirimu sendiri? Aku tak yakin bahwa aku yang bisa melihat malaikat dan buku-bukunya bukan pertanda bagus.”
“Memang bukan.”jawab Sunghoon cepat, “Tapi Jiwon-ssi tak perlu khawatir. Aku sudah menghubungi bagian penyelidikan dan meminta mereka untuk mengecek hal ini. Aku akan tetap menemanimu hingga kau bertemu ibumu.”
Jiwon terlihat penasaran begitu Sunghoon mengatakan bagian penyelidikan, namun sepertinya dia sadar bahwa Sunghoon pasti tidak akan menjawabnya jika dia bertanya soal itu. Sebagai gantinya Jiwon berkata, “Lebih baik kau pulang ke khayangan dan membereskan soal keabnormalan ini, Sunghoon-ssi. Aku berjanji tidak akan membocorkan semua hal ini pada ibuku.”
Sunghoon tersenyum dan menepuk bahu Jiwon lembut, “Aku akan tetap menemanimu hingga kau bertemu dengan ibumu. Tak perlu khawatir.”
“Tapi..”
Sebuah gulungan kertas melayang turun entah darimana ke hadapan Sunghoon. Sunghoon mengambilnya hati-hati dan membukanya. Jiwon tak tahu apa yang tertulis di situ, meskipun dia bisa melihat gulungan kertas itu, namun sepertinya Sunghoon terlihat puas dengan isi gulungan itu, “Kau seharusnya percaya denganku, Jiwon-ssi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan soal keabnormalan ini.”
Sunghoon melepas anting di telinga kirinya dengan hati-hati dan menyimpannya dalam saku sebelum berkata, “Silahkan beristirahat Jiwon-ssi. Aku akan membangunkanmu begitu kita tiba di Mokpo.”
Jiwon paham dengan cara halus Sunghoon untuk mengakhiri pembicaraan mereka. Jiwon membalikkan badannya ke arah jendela dan menutup matanya, mencoba tertidur. Terlalu banyak hal di luar nalar yang terjadi hari ini.

 

***

 

“Kau mau menemaniku sebagai manusia atau sebagai malaikat?”
“Terserah.”
“Bolehkah aku memintamu untuk menemaniku sebagai manusia?”
Sunghoon mengangguk, “Tentu saja.”
“Kalau begitu, bisakah kau berhenti memanggilku Jiwon-ssi? Cukup panggil aku Jiwon saja.”
“Baiklah.”
“Aku dan ibuku tak pernah berkomunikasi sekitar 7 tahun. Dia akan senang jika melihatku punya teman selain Jaeduk dan Jaejin. Dan beliau juga….”
Jiwon kehilangan kata-katanya begitu dia berbelok ke kanan. Seorang wanita tua tengah menenteng kantung sampah keluar dari restoran 24 jam. Sunghoon menduga bahwa wanita tua itu adalah ibu Jiwon karena sekarang wanita tua itu menatap Jiwon dan berkata, “Adeul..”
Jiwon mengangguk dengan canggung dan berkata, “Eomma. Apa kabar?”
Ibu Jiwon yang menyadari bahwa Jiwon tidak datang sendiri, memberi anggukan singkat pada Sunghoon yang membungkuk ke arahnya, “Aigoo… ayo, masuklah ke dalam. Tidak baik berbicara di luar seperti ini.”
Jiwon mengambil kantung sampah yang dipegang ibunya, membuangnya ke bak sampah dan mengikuti Sunghoon dan ibunya ke dalam restoran. Hanya ada dua pengunjung di pagi itu, dan ibu Jiwon mengajak Sunghoon untuk duduk di meja yang paling dekat dengan dapur.
“Kalian pasti lapar kan? Tolong tunggu sebentar, biar kubuatkan sesuatu.”
Jiwon dan Sunghoon menunggu dalam diam sampai ibu Jiwon datang ke meja mereka membawakan nampan berisi sup daging. Ibu Jiwon mendudukkan diri di seberang kursi Sunghoon dan bertanya, “Jadi, siapa namamu? Setahuku Jiwon tak punya banyak teman. Hanya Jaeduk dan Jaejin yang mau menjadi temannya.”
“Nama saya Sunghoon. Jiwon banyak membantu saya selama saya di rehabilitasi.”
“Rehabilitasi?”
“Saya mengalami depresi hebat dan saya nekat menabrakkan diri saya ke depan bus yang sedang melaju kencang. Kebetulan Jiwon yang menolong saya dan menemani saya selama saya dioperasi hingga selesai masa rehabilitasi. Saya kemari untuk meminta maaf karena sayalah yang menyebabkan Jiwon tak bisa mengunjungi Anda dalam beberapa tahun terakhir ini.” kata Sunghoon sambil membungkuk dalam-dalam.
“Apa kau sekarang sudah kembali sehat, nak?”
Sunghoon mengangguk dan membuat Jiwon sedikit kaget karena Sunghoon berdusta dengan mudah dan entah kenapa ibunya bisa mempercayai ceritanya begitu saja. Jiwon mencuri pandang ke arah ibunya, yang kini matanya berkaca-kaca, dan mengelus tangan Sunghoon, “Syukurlah kalau begitu. Sunghoon, ayo, silahkan makan selagi masih hangat.”
Ibu Jiwon bangkit berdiri dan kembali ke dapur meninggalkan Jiwon dan Sunghoon di meja.
“Kukira malaikat tidak boleh berbohong, Sunghoon.”
“Untuk beberapa kasus, boleh. Dan beruntungnya, kasusmu mengizinkan aku untuk berbohong.” Sunghoon menyuapkan sup ke dalam mulutnya, mengunyah daging dengan cepat sementara Jiwon masih terdiam, “Daripada mengurusi urusanku, sebaiknya kau urus urusanmu sendiri. Selesaikan semua kesalahpahaman selama 7 tahun ini.”
“Tanpa perlu kau beritahu pun, aku sudah berniat seperti itu. Hanya saja cerita karanganmu berdampak besar dan ibuku jadi sangat emosional. Sedikit sulit bagiku untuk berpamitan padanya.”
Sunghoon menghabiskan supnya sekali teguk, (Jiwon juga tak sadar bahwa Sunghoon makan dengan sangat cepat) kemudian berkata, “Aku pergi dulu sebentar kalau begitu. Supaya kau bisa berpamitan dengan benar.”
“Baiklah.”
“Tolong katakan padanya, ” Sunghoon mengedikkan kepalanya ke arah dapur, “bahwa aku pergi merokok, oke?”
Jiwon menikmati sup dagingnya dengan perlahan. Sudah lama dia tak merasakan masakan ibunya. Jiwon meneguk kuah supnya perlahan, berharap agar otak dan lidahnya dapat mengingat rasa masakan ibunya sebelum ajal menjemputnya.
“Dimana Sunghoon?” tanya ibu Jiwon sambil membawakan nampan berisi dua cangkir besar.
“Merokok.”
Sunyi lama sampai Jiwon akhirnya meletakkan sendoknya ke meja, “Bagaimana bisa Ibu membuat sup yang rasanya tak pernah berubah selama 7 tahun?”
“Yah, anak tak tahu diri! Kau pikir siapa yang membiayaimu masuk ke akademi polisi dengan berjualan hangover sup selama 24 jam?”
Jiwon terkekeh pelan dan mengamati kerut kerut halus pada wajah Ibunya. Sadar bahwa anak semata wayangnya sedang mengamati wajahnya, ibu Jiwon berkata, “Apa ada sesuatu di wajahku?”
“Aku baru sadar aku tak pernah membelikan ibu skin care. Kerutan ibu ada dimana-mana.”
“Kalau kau datang jauh-jauh dari Seoul hanya untuk menguliahi ibu soal kerutan, lebih baik kau pulang saja.” kata ibu Jiwon jengkel. Melihat Jiwon yang tiba-tiba diam dan membuang pandangan keluar jendela, ibu Jiwon mencoba memancing pembicaraan, “Ibu dengar, Jaejin masih belum sadar dari komanya, betul?”
Jiwon menghela napas panjang, dan berkata, “Jaeduk masih sering menelepon Ibu rupanya.”
“Semenjak kau memutuskan komunikasi dengan Ibu 7 tahun silam, Jaeduk dan Jaejin yang menghubungi Ibu setiap hari. Meyakinkan bahwa anak semata wayang Ibu sehat-sehat saja.” Jiwon memberanikan diri menatap ibunya, menunggu hingga ibunya melanjutkan kalimatnya, “Terkadang Ibu selalu merasakan bahwa anak kandung Ibu bukanlah kau, melainkan Jaeduk dan Jaejin.”
“Maaf, jika aku belum bisa sebaik Jaejin dan Jaeduk. Dan maaf karena harus aku yang menjadi anak Ibu.”
“Kau bicara apa sih? Seburuk-buruknya sikapmu, kau tetap anakku!”
Jiwon tersenyum sesaat sebelum berkata, “Jadi apa Ibu mau memaafkan aku?”
“Soal kenapa kau tak pernah pulang dan bicara pada Ibu? Sudahlah. Jaeduk sudah menceritakan garis besarnya. Lagipula, Ibu yakin, kau bukan anak yang bersikap sembrono. Jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri, nak. Apa yang menimpa Jaejin bukan 100% salahmu.”
“Seandainya aku tak berkeras untuk meneruskan kasus itu, Jaejin sekarang sedang melakukan patroli rutin di pinggiran Seoul. Bukannya tertidur di bangsal rumah sakit.”
“Jiwon-ah. Kau sudah mengupayakan yang terbaik untuk kasus itu. Apa yang terjadi pada Jaejin adalah takdir yang tak bisa dihindari.”
“Takdir ya?” kata Jiwon pelan.
“Ya. Takdir. Bukankah takdir yang mempertemukanmu dengan Sunghoon sehingga akhirnya kau mau bertemu dengan ibu setelah 7 tahun?”
Jiwon kembali membuang pandangannya ke luar jendela, dan membuat ibunya kembali berkata, “Apa yang terjadi pada Sunghoon juga pastilah karena kebiasaanmu yang tak bisa diam melihat orang lain susah, bukan begitu?”
“Jiwon-ah, kau pikir sudah berapa tahun ibu mengenalmu? Ibu sangat paham soal kebiasaanmu, termasuk cara berpikirmu yang aneh karena harus memutuskan komunikasi supaya ibu tidak dijadikan sandera koruptor sialan itu saat kau memutuskan untuk melanjutkan kasus korupsi itu. Jadi daripada kau meminta maaf pada Ibu, lebih baik kau meminta maaf pada Jaeduk dan Jaejin karena ibu yakin mereka tidak seperti ibu yang bisa memahami jalan pikiranmu yang aneh.”
“Ngomong-ngomong soal aneh, ibu sudah hapal dengan sikapmu yang seperti ini. Berencana pergi dalam waktu yang lama tanpa menghubungi ibu, Jaeduk dan Jaejin? Kau mau pergi menolong Sunghoon, bukan begitu?”
“Itu…” Jiwon bangkit dari kursinya dan memeluk ibunya erat erat. Emosinya meluap dan tanpa sadar dia menangis, “Eomma, mianhae..”
“Yah..”
“Jeongnal mianhae, aku tak pernah benar-benar berbakti pada Ibu, dan sekarang aku harus pergi meninggalkan ibu…”
“Kau ini bicara apa sih?” kata ibu Jiwon sambil melepaskan pelukan Jiwon, “Kau hanya menemani Sunghoon selama beberapa waktu ‘kan?”
Jiwon menghapus airmata di pipinya dan berkata, “Itu benar.”
“Jangan bicara omong kosong, karena kau membuat ibu khawatir. Berjanjilah pada Ibu, begitu Jaejin sadar, kita semua bisa kembali berkumpul di sini tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.”
“Aku…”
“Jiwon-ah, ibu mohon…”
“Baik. Aku berjanji.” Dada Jiwon mendadak ngilu saat dia mengucapkan janjinya, “Maafkan aku eomma, karena saat ini Sunghoon lebih membutuhkan aku daripada Ibu ataupun Jaejin dan Jaeduk.”
“Ibu mengerti. Sana, kau jemput Sunghoon. Ibu khawatir dia akan melakukan hal aneh aneh jika terlalu lama sendirian.”

 

***

 

Jiwon tersentak kaget begitu menyadari dia sudah berada di pantai. Lebih herannya lagi dia menemukan Sunghoon duduk bersila menghadap matahari yang sebentar lagi terbit. Sunghoon sepertinya menyadari bahwa Jiwon berada di belakangnya karena tak lama, dia menoleh, dengan rokok di mulutnya.

Sunghoon menghisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan asap dari mulutnya dan berkata, “Sudah selesai?”
Jiwon tak menjawab pertanyaan Sunghoon. Dia berdiri di sebelah Sunghoon, memandang semburat kemerahan yang muncul dari ufuk timur. Penyesalan demi penyesalan memenuhi benaknya sekarang. Sempatkah ia untuk mengirimi ibunya cukup uang sampai ajalnya tiba? Sempatkah ia melihat Jaejin bangun dari tidurnya? Sempatkah Jaejin memaafkannya? Sempatkah ia menjelaskan semua hal tentang kasus besar itu pada Jaeduk? Sempatkah ia menitipkan ibunya pada Jaeduk?
“Sempatkah aku melihat matahari terbit di sini bersama Jaeduk dan Jaejin sebelum aku pergi?”
“Eh?” Sunghoon bangkit dari duduknya dan menoleh ke arah Jiwon. Dia melihat Jiwon yang menangis, dan bergumam, “Jiwon…”
“Berapa..berapa lama lagi sampai aku pergi? Berapa lama lagi…”
Jiwon mengisak pelan dan Sunghoon iba padanya. Tanpa sadar Sunghoon memeluk tubuh Jiwon, menepuk punggungnya perlahan. Dugaan Sunghoon tak sepenuhnya salah. Bahkan manusia seperti Jiwon tak bisa tetap tenang saat dia menyadari ajalnya semakin dekat.

 

***

 

D – 40

 

Jiwon dan Sunghoon kembali ke Seoul menggunakan bis terakhir dari Mokpo. Tidak ada hal besar yang terjadi selama mereka berada di Mokpo, selain ketika Jiwon puas melihat matahari terbit, dia hanya menggumam, “Bisakah kau biarkan aku pergi berkeliling sendirian hingga jam makan siang?”
Dan tentu saja Sunghoon mengabulkan permintaan Jiwon, meski tanpa Jiwon sadari, Sunghoon tetap mengawasi Jiwon dari jauh. Surat yang diterimanya kemarin malam adalah surat permohonan untuk penyelidikan terhadap Jiwon. Dan dari semua kasus kejadian langka yang pernah diselidiki oleh bagian penyelidikan, Sunghoon belum pernah menemukan kasus manusia yang bisa melihat malaikat lain selain malaikat pencabut nyawa dan dia cukup beruntung karena bagian penyelidikan (yang sudah tahu betul bahwa Sunghoon punya kekuatan yang sangat besar sebagai eksekutor) mengizinkannya untuk menggunakan kekuatannya sekitar 10% untuk berjaga-jaga jika Jiwon tiba-tiba melakukan hal berbahaya.
Namun untungnya, sampai mereka tiba di rumah Jiwon jam 4 pagi, Jiwon masih diam, sesekali menoleh berkeliling, seolah memastikan Sunghoon masih berada di sekitarnya. Sunghoon yang kini bosan, karena Jiwon memutuskan untuk tidur sesaat sebelum kerja sambilannya, memilih untuk membaca laporan-laporan investigasi lama mengenai kasus langka sambil sesekali menulis sesuatu di perkamennya.
Sunghoon tak sadar sudah berapa jam berlalu sejak dia sibuk membaca sampai dia sadar bahwa Jiwon sedang duduk di seberangnya dan mengucapkan doa paginya.
Sunghoon sedang meraba telinga kirinya, seolah memastikan bahwa dia sudah mengenakan kembali antingnya, dan tiba-tiba saja Seungyoon datang, dan mencekik lehernya kuat-kuat, membuat beberapa buku yang tertumpuk di meja, jatuh berserakan di lantai.
“Kukira kau cukup cerdas, Sunghoon.”
“Apa…ap..apa maksudmu, Seungyoon?” tanya Sunghoon tersengal. Kuku-kuku milik Seungyoon menancap di kulit lehernya, dan Sunghoon mulai merasakan kesakitan yang amat sangat.
“Kau menginginkan Jiwon menjadi kelinci percobaanmu dan bagian penyelidikan, bukan begitu? Kau bersikap ksatria, mencoba mengabulkan permintaan terakhirnya….” Seungyoon menancapkan kukunya semakin dalam, membuat Sunghoon terbatuk, kehabisan napas sementara tangan Sunghoon mencengkeram erat tangan Seungyoon, berharap agar Seungyoon melepaskannya, namun percuma, “Tapi sebetulnya kau sedang melakukan eksperimen kecil padanya, berharap jika dia bisa……”
Jiwon tak bisa mempercayai apa yang sedang dia lihat sekarang. Dia baru saja menyelesaikan doa paginya dan saat dia membuka matanya, sosok hitam yang pernah dia lihat saat di bar, kini menjadi jelas. Sosok hitam itu tak lain adalah sesosok pria, dengan tinggi yang hampir sama dengan Sunghoon, mengenakan baju serba hitam dan berambut pirang. Makhluk itu sedang mencekik leher Sunghoon dan dari kuku-kukunya yang menancap di kulit leher Sunghoon, muncul bercak hitam menjijikkan yang Jiwon duga adalah racun.
Berusaha tidak menimbulkan suara saat dia bangkit dari kursi, Jiwon bangkit berdiri, tangannya terjulur menuju bahu makhluk itu, sembari berteriak, “APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN, MAKHLUK SIALAN!”
Sunghoon, yang menyadari kekagetan Seungyoon karena Jiwon berteriak tiba-tiba selama sepersekian detik sebelum tangan Jiwon sempat memegang bahu Seungyoon, berhasil melepaskan diri dari cekikan Seungyoon, dan kemudian dengan cepat merubah posisinya dan Seungyoon, sehingga kini tangan Jiwon malah memegang tangan kiri Sunghoon, yang berusaha menahan Jiwon memegang bahunya.
Sunghoon masih tersengal sebentar setelah berhasil melepaskan diri dari cekikan Seungyoon sebelum berkata, “Urusan langit. Aku harus pergi.”
Tanpa menunggu jawaban Jiwon, tubuh Seungyoon dan Sunghoon diselimuti asap putih dan menghilang dari hadapan Jiwon.
Seungyoon membuka matanya perlahan. Sunghoon membawanya kembali ke khayangan begitu tiba-tiba dan kini baik dia maupun Sunghoon jatuh terkapar di depan gedung utama divisi penyelidikan. Seungyoon memandang ke samping kanannya, tempat dimana Sunghoon terkapar.
“Apa yang mau kau lakukan dengan membawaku kesini, hah?”
Tak ada jawaban. Namun sebagai gantinya, Seungyoon mendengar Sunghoon sedang merintih kesakitan dan napasnya tersengal-sengal. Seungyoon melunakkan suaranya, begitu dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada Sunghoon.
“Hei…Sunghoon, apa yang terjadi?”
Seungyoon bangkit dan merangkak mendekati Sunghoon dan terpekik kaget melihat tangan kiri Sunghoon dipenuhi lebam dan luka menjijikan berbau busuk, “Yak! Sunghoon-ah! Sunghoon-ah! Bertahanlah Sunghoon!!”

 

TBC

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “[ FF EunKang / Jyonhoon | The Deathberry – Part 2 (BAHASA VERS)

  1. Ow ow dugeun dugeun 😌 plis ini jangan dibiarin jiwon mati gitu aja, happy ending ya kak? Hehe
    Masih banyak misteri yang belum terkuak nih😐 chapter 3 belum keluar ya? Ga sabar bacanya 😌 take your time thor, jangan buru buru /siapa juga yang buru buru e.e
    Mau cek fanfic lain sambil nunggu ini update. Saranin fanfic yang kk buat yang paling kk suka dong. Akhir kata i love you
    so much much much much っوっ )っ

    Like

      1. Semangat lanjutinnya 💪
        Yah aku lagi ga mau baca yang english, kadang suka berat 😭 tapi nanti aku baca deh
        Yang IC juga gapapa kok, sebenernya lebih berasa feelnya tapi diluar sana saking banyaknya yang plotnya sama kadang aku ga bisa bedain fanfic buatan siapa siapanya 😂 fanfic kakak keren sih ga pasaran, makannya semangat lanjutin/bikin karya barunya hihihi fighting Ù©( ‘ω’ )و

        Like

  2. Semangat kak lanjutinnya 😄😄😄 ku suka bgt fanfic2nya kakak, gak pasaran trus karakter sunghoon nya kusuka bgt 😍😍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s