[ FF EunKang/JionHoon | Fire Water part 1 ]

 

 

Diclaimer :

 

Gue salah itung umurnya semua cast pas di teaser kemaren. XD Disitu gue berasumsi Seungjae umurnya sekitar 3 taunan, dan kalo umur Jiyong 26, maka dia pas lulus kuliah langsung nikah XD. Maka dari itu gue revisi semua umur castnya yah. Gue harap kalian cukup puas dengan karakter Jiwon yang super duper cuek disini, dan juga Sunghoon yang gak semanis biasanya (dan super slebor). Yah, pokonya apapun itu, feedback kalian di part pertama ini berpengaruh penting buat part part berikutnya. Selamat menikmati.

 

 

Cast :

Eun Jiwon (31) sebagai penanggung jawab kelompok Zebra di Sunny Daycare

Kim Jaeduk (30) sebagai penanggung jawab kelompok Kaktus di Sunny Daycare

Lee Jaejin (30) sebagai penanggung jawab kesehatan anak merangkap asisten penanggung jawab kelompok Kaktus di Sunny Daycare

Ko Jiyong (29) kepala divisi marketing di Anonymous Contractor

Jang Suwon (29) asisten editor umum di Dream Design

Kang Sunghoon (29) arsitek freelance.

 

1490252539053

 

***

 

 

Wangi kopi yang beradu dengan wangi pai lemon menguar lembut dari meja paling pojok café kecil di pinggir jalan utama menuju kantor pusat Dream Design. Pria yang baru saja mendapatkan pesanan berupa secangkir expresso dan sepotong pai lemon yang baru saja dipanggang, masih bergeming tidak bergerak seolah tak tergoda dengan wangi pai lemon di depannya. Dia sibuk mengutak-atik sebuah perangkat lunak yang biasa dia gunakan untuk mendesain sebuah bangunan. Kepalanya buntu. Besok adalah waktu tenggat untuk menyerahkan semua pekerjaannya, ditambah dia masih belum bisa menyelesaikan desainnya sesuai permintaan kepala editor.

Dia memejamkan matanya sesaat berharap inspirasi akan datang, namun nihil. Semakin lama dia memejamkan matanya, semakin besar rasa kantuk menyerangnya. Dia membuka matanya dan mendesah. Dia butuh suasana baru untuk menyelesaikan desainnya. Dia meneguk kopinya dan menghabiskan pai lemonnya sekali suap, mengabaikan rasa terbakar pada lidah dan tenggorokan karena menelan pai yang masih panas. Ada suatu tempat yang diam-diam suka dia kunjungi ketika dia merasa bahwa desainnya tak bisa direvisi lebih baik lagi. Dia merapikan semua kertas-kertas berisi catatan perbaikan dari Editor Jung, memasukkan laptopnya asal ke tas dan buru-buru melesat pergi meninggalkan café.

Tempat itu tidak bisa dibilang ideal sebenarnya. Hanya sebuah taman kecil di ujung jalan tiga blok dari kantor Dream Design. Taman itu hanya memiliki satu gazebo berukuran sedang di tengahnya, tempat permainan anak yang sangat sederhana, hanya ayunan, sebuah perosotan besar, jungkat jungkit, beberapa alat kebugaran yang dia tak tahu namanya, sebuah kolam ikan kecil di dekat gazebo, dan 10 bangku yang tersebar di sekeliling taman. Dia pernah secara tak sengaja tertidur di gazebo ketika dia merasa otaknya yang tidak bekerja dengan baik di dalam ruangan dan memilih menyelesaikan pekerjaannya di gazebo taman pada dini hari. Dan ketika dia ditemukan pejalan kaki yang kebetulan ingin beristirahat di dalam gazebo beberapa jam kemudian (setelah pagi tiba tentu saja), laptop dan seluruh pekerjaannya masih utuh dalam pelukannya, hanya saja karena tampangnya waktu itu benar benar lusuh dan terlihat seperti seorang kriminil, maka dia harus menjelaskan panjang lebar ke polisi bahwa laptop ini murni miliknya, bukan barang curian.

Tapi atas insiden itu, bibi pengurus taman selalu mengizinkannya menggunakan akses listrik setiap dia melihat Sunghoon menyelesaikan pekerjaannya di gazebo dan kadang mengirimkan Sunghoon sedikit camilan. Sunghoon yang sekarang sedang berlari ke arah taman, tak lupa menelepon bibi pengurus taman, memastikan bahwa akses listrik bisa dia gunakan untuk hari ini.

Dan beruntungnya, taman yang biasanya cenderung ramai oleh pejalan kaki yang ingin rehat sebentar di sore hari, cenderung lengang. Sunghoon buru buru melongok ke arah gazebo dan berharap tidak ada orang yang menggunakan gazebo. Sunghoon mendekati gazebo dan tiba-tiba saja dia mendengar namanya dipanggil, “Kang Sung Hoon?”

Sunghoon menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Dia melemparkan senyum kikuknya begitu menyadari bahwa sahabatnya semasa SD tengah memanggilnya, “Jiyong?”

Jiyong menghampiri Sunghoon, “Terakhir kali aku melihatmu waktu aku meminta tolong padamu soal proyek desain taman untuk gedung Hyundai yang baru. Kabar baik?”

Sunghoon menggeleng, “Sayangnya tidak. Besok adalah hari pembunuhanku. Aku masih belum menyelesaikan revisi dari kepala editor untuk proyek baru Dream Design.”

“Lalu kenapa kau kemari kalau kau tahu besok adalah deadlinemu?”

“Mencari udara segar.” kilah Sunghoon, “Dan apa yang kau lakukan disini?”

“Ah,” kata Jiyong salah tingkah, “Aku dan Seungjae sedang menunggu istriku dari tugas rutinnya di rumah sakit.” Jiyong menoleh ke belakang, memastikan anaknya, Seungjae, masih berdiri dalam diam di pinggir kolam ikan.

“Oh.” jawab Sunghoon kaku, mencoba mengakhiri pembicaraan secepat yang dia bisa “Tumben sekali kau mau mengunjungi taman dengan Seungjae soalnya.”

“Apa aku sedang mengganggumu dengan semua basa basi ini?”

“Er, ya.” jawab Sunghoon, “Aku harus menuliskan semua ide di kepalaku dan mengubahnya menjadi sesuatu yang brilian sesegera mungkin.”

Jiyong menggaruk telinganya yang tak gatal, “Seungjae yah! Ayo kita beli susu stroberi!”

“YAY!” teriak Seungjae sambil berlari ke arah Jiyong, “Kita pergi sekarang ‘kan, Ayah?”

“Beri salam untuk Sunghoon ahjussi.” Kata Jiyong sambil menggandeng tangan Seungjae

“Ah, halo ahjussi. Kapan-kapan main ke rumah Seungjae yah” kata Seungjae sambil membungkukkan badan dan melambai ceria.

Sunghoon memaksakan senyumnya dan melambai singkat sebelum kembali berlari ke gazebo, meninggalkan Jiyong yang mendesah.

“Sunghoon ahjussi mau kemana?” tanya Seungjae begitu mereka berjalan menjauhi taman.

“Dia mau menggambar Seungjae yah.”

“Sendirian?” tanyanya lagi, “Apa Sunghoon ahjussi tidak merasa kesepian?”

“Aish, kata katamu itu seperti bukan anak umur 3 tahun.” kata Jiyong, “Kau terlalu banyak bermain dengan Pak Guru Jiwon.”

“Seungjae sayang Pak Guru Jiwon. Dia selalu mengajari Seungjae permainan baru yang bahkan ayah tak tahu.”

Jiyong mendengus dan berpikir, ‘Sepertinya aku butuh untuk mengadakan pertemuan khusus dengan Jiwon Hyung. Seungjae menjadi terlalu pintar’

 

***

 

“Otakku kering, Suwon-ah. Jadi berhenti berbicara denganku.”

“Aish,” protes Suwon, “Setelah kau merevisi desainmu menjadi super duper brilian hanya dalam waktu semalam? Bagaimana bisa?”

Sunghoon tidak menjawab. Dia duduk tertelungkup di meja Suwon, kepalanya pusing. Dan pertanyaan bodoh semacam ‘bagaimana bisa kau mendesain semua itu dalam semalam’ dari tadi berseliweran di telinganyanya, makin membuat kepalanya pusing tidak karuan.

“Oke, baiklah. Aku menyerah. Yang penting klien kita puas itu saja.”

Sunghoon memijat keningnya sesaat, “Kalau kau sudah selesai mengoceh, aku mau pulang. Invoicenya akan kukirim besok pagi.”

“Eh? Kalau kau mau memberikan invoicenya besok pagi, seharusnya kau tak datang ke mejaku.” kata Suwon kesal, “Waktuku jadi terbuang percuma karena berbicara denganmu.”

Sunghoon menatap Suwon kesal dan menggumam keras, “Sinting.”

Sunghoon bangkit dari kursinya dan keluar dari kantor Dream Design secepat yang dia bisa. Perutnya sangat lapar, karena dia nyaris tak memasukkan makanan apapun ke dalam mulutnya sampai meeting dengan klien selesai. Tekanan darahnya juga sepertinya sangat rendah, mengingat dia tidak tidur semalaman. Dirinya mengingatkan diri sendiri untuk mampir membeli roti manis di cafe paling dekat, supaya tubuhnya kuat dalam perjalanan pulangnya ke apartemen.

Tapi malangnya, koordinasi antara mata, tubuh dan otaknya sudah mulai menurun drastis., karena di detik Sunghoon mencoba berjalan menggapai pintu cafe, di saat itu pula dia disenggol seseorang dari belakang.Tubuhnya yang memang sudah tidak seimbang, langsung jatuh tersungkur ke depan. Dia buru-buru bangkit dan berseru pada orang yang menyenggolnya, “HEI!”

Sunghoon langsung menelan ludahnya, begitu dia melihat profil orang yang menyenggolnya. Orang itu mengenakan coat panjang hingga lutut berwarna hitam, celana jeans ketat yang terdapat sobekan tidak wajar di kaki sebelah kanannya, masker hitam yang dipadu dengan beanie warna senada. Dan kacamata hitam yang makin membuatnya terlihat mengintimidasinya. Laki-laki yang menyenggolnya tadi, sepertinya sedang menatapnya karena dia tidak mau membuka kacamata hitamnya dan bertanya dengan penuh karisma, “Anda tidak apa-apa?”

Sunghoon bangkit dan menggumam, “Tentu saja.” Dia memilih untuk membatalkan adegan protes kerasnya karena sudah menyenggol dirinya hingga jatuh tersungkur. Melihat pakaiannya yang serba hitam juga robekan pada celana jeansnya, Sunghoon berpendapat bahwa dia tak perlu memperpanjang urusannya dengan mafia di depannya. Laki-laki di depannya melambai singkat dan menggumam pelan, “Makanya jangan suka berhenti berjalan tiba-tiba, gadis cantik.”

Laki-laki itu melanjutkan perjalanannya, tanpa menyadari betapa bingungnya Sunghoon setelah mendengar gumamannya.

 

***

 

“Kau tahu sendiri akibatnya jika bagian keuangan telat membayarku sehari saja.” ancam Sunghoon sambil menyorongkan amplop putih berisi invoice, “Senang bisa bekerja sama dengan Dream Design.”

Suwon mendengus dan mengecek invoice yang ada di amplop, meletakkanya di tumpukan paling atas, “Kau masih ada janji setelah menyerahkan bon sialan ini?”

“Nope. Proyek baru dari Anonymous masih dalam tahap negosiasi, aku juga sedang berhenti mencari pekerjaan tambahan karena aku pikir aku butuh istirahat setelah permintaan kepala editor Jung tempo hari.”

Suwon sedikit terkejut mendengar nama Anonymous disebut dan bertanya, “Anonymous Constructions? Tempat Jiyong bekerja?”

“Yep. Sebetulnya aku juga kaget kenapa Anonymous masih mau menggunakan jasaku setelah proyek gedung baru Hyundai.”

“Itu berarti Jiyong masih menganggapmu teman, orang bodoh.” Kata Suwon.

“Setelah apa yang dia katakan tempo dulu saat kami kuliah? Kurasa tidak. Dia hanya mau memperolokku karena aku hanyalah seorang freelancer. Sedangkan dia ketua divisi.”

Suwon menghela napas dan mengecek jam tangannya, “Daripada kau emosi tidak jelas begitu, kau mau menemaniku makan siang?”

“Kau yang bayar.”

“Baiklah.” Kata Suwon, “Kuizinkan kau membeli kimchi stew sebanyak satu porsi.”

Sunghoon tak punya pilihan selain menunggu Suwon membereskan tumpukan kertas di depannya, dan mengambil dompetnya. Dia dan Suwon terdiam sampai mereka keluar dari gedung kantor Dream Design.

“Ngomong-ngomong soal Jiyong, kemarin aku bertemu dengannya di taman,” kata Sunghoon sambil lalu.

“Lalu?”

“Tidak ada lanjutannya Jang Suwon. Aku sedang buru-buru menyelesaikan pekerjaanku dan kau tahu sendiri kalau aku benci disela orang ketika sedang terburu-buru.”

“Bisa tidak sih, kau menurunkan egomu sedikit?” tanya Suwon, “Jiyong bermaksud memperbaiki hubungannya denganmu lewat proyek gedung Hyundai, dan sekarang di saat kau tidak sengaja bertemu dengannya, kau merusaknya.”

“Kau selalu mengatakan bahwa aku yang salah.” Kata Sunghoon sakit hati. “Apa kau masih bisa bersikap biasa saja saat mimpimu diremehkan sahabatmu sendiri?”

Suwon tidak menjawab. Sunghoon juga tidak berminat melanjutkan percakapannya dengan Suwon. Mereka berdua terdiam sampai mereka tiba di rumah makan kecil dan memesan makanan.

“Setidaknya, cobalah untuk tidak terlalu galak padanya.” Kata Suwon, “Semakin hari kau semakin galak. Kau harus periksa tekanan darahmu. Siapa tahu sebentar lagi kau terkena stroke karena sering marah-marah.”

“Sialan.”

“Aku serius. Melihatmu yang bahagia menjadi freelance dan single semejak lulus kuliah, adalah tanda bahwa pilihan sahabatnya tidak seburuk yang dia pikirkan.”

“Kau menyindir apa memujiku sih?”

“Itu fakta. Kau selalu bilang padaku bahwa dengan bekerja sebagai freelance, kau bisa dapat proyek yang harganya jauh di antara gajiku atau Jiyong selama setahun. Betul?”

“Lalu?”

“Dan kau juga belum punya pacar setelah kita bertiga di wisuda.” kata Suwon tanpa rasa takut, “Jadi disebelah mana kau merasa aku menyindirmu?”

Sunghoon mendengus, “Oke, kau benar. Freelance adalah cita-citaku semenjak lama. Aku masih bisa bekerja dengan tenang dan pergi liburan semauku.”

“Jiyong hanya merasa bakatmu terlalu sayang hanya jika kau memilih sebagai freelancer. Dengan bakat seperti itu, kau bisa bekerja di perusahaan bagus di luar negeri.”

“Selama upahku cukup untuk membiayai kehidupan dan liburanku, aku akan terus bekerja sebagai freelance.” Sanggah Sunghoon.

“Kau bisa peka sedikit tidak sih?” tanya Suwon yang sekarang sudah benar-benar kesal,”Dia hanya mengkhawatirkanmu.”

Sunyi lama sebelum Sunghoon menjawab, “Aku tahu. Aku hanya tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulutnya. Itu saja.”

“Cobalah berdamai dengan masa lalu. Semakin kau terlarut di dalamnya, semakin kau tidak bisa melangkah, Kang Sung Hoon.”

“Tumben kau bijak.”

 

***

 

“Sunghoon”

Sunghoon menoleh. Negosiasinya dengan Anonymous berjalan dengan lancar. Mereka sepakat untuk membayar Sunghoon 40% dari nilai kontrak mereka dengan salah satu developer apartemen mewah di Hongkong. Sunghoon sudah memutuskan untuk segera pulang begitu meetingnya selesai, karena dia merasa dia belum siap untuk bertemu dengan Jiyong. Naasnya, yang memanggilnya barusan adalah Jiyong.

“Negosiasinya lancar?” tanya Jiyong. Dia sudah mengenakan mantel bepergiannya dan menenteng tas kerjanya. Menyadari arah pandang Sunghoon ke tas kerjanya, Jiyong buru-buru berkata, “Ah, aku akan menjemput Seungjae. Istriku sedang tidak bisa pulang awal.”

“Oh. Ya. Negosiasinya lancar. Aku senang manajemen Anonymous mau menerima tawaranku yang agak tidak wajar.”

“Apa kau mau pulang?”

“Ya. Aku harus segera memulai pekerjaan ini. Musim panas sudah dekat. Sudah waktunya untuk berlibur.” Kata Sunghoon, mencoba terdengar ramah, “Suwon akan mengolokku sebagai single abadi jika aku gagal punya pacar di musim panas ini.”

“Tak keberatan jika aku mengantarmu pulang? Kebetulan daycare Seungjae dan apartemenmu searah.”

Sunghoon dengan cepat ingin menolaknya, namun dia teringat nasihat Suwon beberapa hari yang lalu. “Sama sekali tidak. Harusnya aku yang berterimakasih kau mau menawariku tumpangan. Bus ke arah apartemenku selalu penuh sesak di jam seperti ini.”

Sunghoon mengikuti Jiyong menuju tempat dimana ia memarkir mobilnya. Dia memasuki mobil begitu Jiyong mempersilahkannya naik. Mereka terdiam cukup lama, sampai akhirnya kemacetan panjang menyapa mereka berdua. Jiyong tidak menemukan pilhan lain selain mengajak Sunghoon berbicara.

“Proyek Dream Design tempo hari, apakah lancar?”

“Ah ya. Aku selalu membuat keajaiban sesaat sebelum deadline tiba. Aku tak menyangka klien kami langsung mengatakan oke begitu melihat hasil revisiku.”

“Kebiasaanmu tak pernah berubah semenjak kuliah. Selalu membuat orang terpana dengan tugasmu yang tanpa cela. Padahal kau mengerjakannya kurang dar i12 jam sebelum deadline.”

“Entah aku harus bersyukur atau tidak dengan kebiasaanku itu.”

Jiyong tertawa, “Makanya kau selalu meminta deadline yang sempit kan? Supaya kau bisa beristirahat agak lama sesudah menyelesaikan satu proyek?”

“Yap. Tentu saja. Aku butuh ide ide segar yang hanya bisa aku dapat lewat liburan. Freelancer sepertiku butuh ide segar agar banyak mendapat tawaran proyek besar.”

“Sudah kuduga.” Kata Jiyong yang berusaha memancing Sunghoon bercerita lebih banyak, “Apa kau masih belum berminat untuk bekerja selain lewat bantuan Dream Design?”

“Hmm. Entahlah. Sejauh yang aku rasakan, tawaran kerja sama Dream Design paling ideal dengan kondisiku. Meski tidak menutup kemungkinan kalau mungkin sebentar lagi aku akan berkerja sama Clover Company.”

“Perusahaan mainan terkenal milik kerabat Jiwon hyung?”

“Ha? Siapa Jiwon hyung?”

“Ah, maaf. Dia kenalanku. Maksudku Clover Company yang perusahaan mainan itu?”

“Yap. Mereka punya ide menarik yang berkaitan dengan bidangku. Aku sudah dihubungi beberapa kali lewat telepon kapan aku bisa datang ke perusahaan mereka untuk negosiasi. Anehnya, mereka dengan sabar menungguku pulang berlibur musim panas nanti, tiap aku menolak jadwal yang mereka ajukan untuk negosiasi.”

“Itu artinya mereka benar-benar ingin bekerja sama denganmu Sunghoon.” Kata Jiyong, “Kau masih tidak peka seperti biasa.”

“Kenapa sih kau dan Suwon selalu mengatakan itu seolah itu adalah satu-satunya cela pada diriku?”

 

***

 

Sunghoon menghisap rokoknya sekali lagi, sebelum mematikannya di asbak. Tidak sia-sia dia mencicil pekerjaannya untuk Anonymous semenjak dua hari lalu dengan cara berpindah dari café ke café. Wangi cake dan roti yang baru dipanggang adalah sumber inspirasinya. 60% pekerjaannya sudah rampung dan kepala proyek dari pihak Anonymous belum menyampaikan keberatan terkait desainnya, yang berarti dia masih bisa mengembangkan desainnya sesuai keinginannya. Dia mematikan laptopnya, memasukkannya ke tas, tepat saat ponselnya berdering.

“…..”

“Aku sedang di café biasa. Menyelesaikan pekerjaan untuk Anonymous. Ada sesuatu yang urgen?”

“…..”

“Ah..baiklah. Kita bertemu di pintu gerbang apartemenku saja.”

“…..”

“Tak apa. Betul. Aku senang bisa membantu.”

Sunghoon mematikan ponselnya, dan membeli beberapa potong roti manis tambahan untuk dibawa pulang. Jiyong baru saja menghubunginya memohon agar Sunghoon mau mengantarkan Seungjae ke daycare. Istrinya baru saja pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon darurat, sedangkan Jiyong harus segera berangkat ke Busan untuk meeting dengan rekanan bisnis Anonymous. Sunny Daycare, tempat Seungjae biasa dititipkan, hanya bisa menerima Seungjae paling cepat satu jam dari jam operasionalnya, dan Jiyong bisa terlambat karena hal itu. Sunghoon tadinya mau menolak permintaan Jiyong, namun nasihat Suwon yang selalu terngiang di telinganya, dan membuat Sunghoon rela berkorban mengantarkan Seungjae.

Sunghoon sudah tak jauh dari kompleks apartemennya saat dia mengenali mobil sedan hitam milik Jiyong yang terparkir tak jauh dari situ . Dia sedang menenangkan Seungjae yang sedikit rewel dan Sunghoon mempercepat langkahnya mendekati Jiyong dan Seungjae.

“Maaf Sunghoon. Aku tahu kau nyaris tidak tidur beberapa hari ini, dan aku harus mengganggumu dengan hal kecil ini.”

“Tak apa. Siapa tahu dengan menghabiskan beberapa jam dengan Seungjae, aku bisa dapat inspirasi baru.”

“Kau tak keberatan menggendongnya sebentar?” tanya Jiyong, “Dia masih sedikit mengantuk saat perjalanan kesini. Bangunkan saja setengah jam sebelum kalian berangkat ke daycare.”

Sunghoon menggendong Seungjae, menepuk-nepuk punggungnya agar tertidur, “Ada lagi yang harus kubawa saat mengantar Seungjae?”

“Ah, iya aku hampir lupa. Ini.” Kata Jiyong sambil menyerahkan buku, “Buku harian Seungjae selama di daycare dan aku butuh fotomu.”

“Foto?”

“Iya, untuk membuktikan bahwa aku mengenalmu dan memastikan Seungjae tidak diculik orang asing. Tak apa?”

Sunghoon mengangguk dan membiarkan Jiyong mengambil gambar dirinya yang menggendong Seungjae. Jiyong melirik jam tangannya sebelum berkata, “Aku harus pergi.”

Sunghoon mengangguk dan membiarkan Jiyong menaiki mobil sedan hitamnya dan berlalu pergi. Dia berjalan perlahan, memasuki gedung apartemennya dan berharap dia bisa memejamkan matanya sesaat di apartemen. Tapi harapan tinggal harapan, karena begitu mereka berdua tiba di apartemennya dan Seungjae yang mulai rewel, menyita banyak tenaga dan perhatiannya (termasuk harus menjawab semua pertanyaan Seungjae dari ‘apa paman Sunghoon tidak merasa kesepian’ , ‘kenapa di rumah paman tidak ada nasi’ , ‘kapan ayam di daycare bertelur’ dan masih banyak lagi.) Dan jujur saja begitu jam menunjukkan pukul 7.30 pagi, dia dengan senang hati mengajak Seungjae untuk berangkat pergi ke daycare, yang tentu saja disambut antusias oleh Seungjae.

Entah Seungjae yang terlalu antusias pergi ke daycare setiap harinya, atau memang pada dasarnya otaknya luar biasa jenius, dia sama sekali tak menuntun Seungjae berjalan ke daycare. Anak itu malah melepaskan pegangan tangannya dengan Sunghoon dan berjalan dengan cepat di sisi dalam trotoar. Dia mulai menggumam menyanyikan lagu yang entah apa begitu mereka memasuki undakan kecil menuju daycare. Dia mempercepat langkahnya dan mulai berlari mundur.

“Seungjae!” panggil Sunghoon. “Jangan berlari seperti itu!”

“Kenapa? Kata pak guru Jiwon, ini cara tercepat untuk sampai ke daycare!”

“Iya, tapi kau harus…” Sunghoon kehilangan sisa kalimatnya. Seungjae yang sedang berlari mundur, dengan sukses menabrak pria yang berpakaian serba hitam yang berdiri di belakangnya, “Sial.”

Sunghoon menyusul Seungjae yang jatuh terduduk di trotoar, “Tidak ada yang luka?”

Seungjae hanya mengangguk pelan, masih kaget akibat terjatuh. Sunghoon tersenyum menatap Seungjae, “Bagus.”

Sunghoon bangkit dan menatap pria yang ditabrak oleh Seungjae, “Maaf.”

Pria itu melepaskan kacamata hitam dan topinya. Dia tersenyum ke arah Seungjae yang berusaha keras tidak menangis, “Anak pintar.”

“Ah! Pak Guru Jiwon!” jerit Seungjae senang, dia melompat-lompat dan Jiwon langsung menaikkan Seungjae ke pundaknya. “Yay!”

“Selalu bersemangat ya Seungjae.”

“Ayo Pak Guru! Ajari Seungjae cara membuat roket!”

“Nanti ya. Kita harus menunggu Pak Guru Jaeduk karena kita akan membuatnya bersama-sama dengan kelompok kaktus.”

“Yay! Aku bisa membuat roket dengan Eun Soo!”

Wajah Jiwon yang penuh senyum dan memancarkan aura hangat berubah drastis begitu dia melihat Sunghoon yang masih terperangah kaget, “Halo. Anda pasti Kang Sung Hoon.”

Sunghoon yang masih kaget karena melihat wajah Jiwon yang dingin dan tak ramah saat menatapnya buru buru menjawab dengan tergagap, “Y-y-ya.”

“Buku diary.” Kata Jiwon sambil menurunkan Seungjae dari pundaknya dan menggendongnya. Melihat Sunghoon yang tidak bereaksi, dia mengulang kata-katanya, “Buku diary.”

“Eh?”

“Mana buku diary Ko Seunghae, Kang Sunghoon?”

“Ah..oh. Ini.” Kata Sunghoon sambil menyerahkan buku diary Seungjae dari tasnya.

Jiwon mengambil buku tersebut, dan berkata, “Baiklah. Semoga hari Anda menyenangkan.”

Sunghoon masih diam tak bergeming di tempatnya, menatap tak percaya Jiwon dan Seungjae yang sekarang sedang tertawa keras menuju pintu gerbang daycare. Otaknya sedang berpikir keras, karena dia merasa bahwa sosok Jiwon tak asing. Dia menepuk kepalanya keras begitu dia menyadari bahwa Jiwon yang orang yang menyenggolnya di depan café tempo hari dan mengatainya gadis cantik.

“Bagaimana bisa orang seperti itu menjadi staf daycare?”

 

***

 

Beberapa hari lalu, Sunny Daycare

GUBRAK!

“Aish”

Jaeduk buru buru bangkit dari kursinya dan membuka pintu ruangan tempat seluruh staff Daycare biasa berkumpul. Dia mendapati Jiwon yang sedang mengelus-elus lututnya dan rak sepatu luar yang sudah tergeser akibat ditabrak Jiwon beberapa detik sebelumnya, “Sudah ketiga kalinya Hyung menabrak rak sepatu di minggu ini.”

“Apa boleh buat. Aku lupa dimana aku meletakkan lensa kontakku. Dan inilah aku. Pergi ke daycare dengan pakaian seperti mafia.”

Jaeduk menggeser rak sepatu kembali ke tempat semula dan kembali ke ruangan staf, menunggu Jiwon selesai membuka sepatunya dan masuk ke ruangan staf, “Buka saja kacamatamu. Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali aku dan Jaejin.”

Jiwon melepas kacamatanya dan mendesah lega, “Akhirnya. Gara-gara kacamata ini, kemampuan penglihatanku yang hanya 25% turun drastis ke 0%. Dan tadi aku menyenggol gadis cantik di depan café sampai dia jatuh tersungkur.”

“Apa dia memarahimu karena telah menyenggolnya?”

“Tentu saja tidak. Pakaian serba hitam dan kacamata ini membuatku terlihat seperti mafia.” Kata Jiwon, “Saking kagetnya melihatku, suaranya jadi mirip laki laki.”

“Ini.” Kata Jaeduk sambil menyorongkan kotak kecil, “Lensa kontak cadanganmu.”

“Ah. Terimakasih.” Kata Jiwon, “Bisa gawat kalau anak-anak tahu bahwa mata kiri guru kesayangannya seperti alien.”

“Warna pupil kirimu hanya berwarna biru elektrik, hyung. Jangan membesar-besarkan masalah.” Kata Jaejin tiba tiba dari bawah meja, “Aku sedang membujuk Charles.” Tambahnya saat melihat ekspresi kaget Jaeduk dan Jiwon.

“Tetap saja bagi anak-anak aku seperti alien.”

“Dan kau apakan celanamu?” tanya Jaejin saat melihat celana Jiwon yang robek tak wajar.

“Oh. Aku tak sengaja mengguntingnya saat menyiapkan kain untuk prakarya hari ini. Semua stok celanaku masih belum kering dan aku tak punya pilihan selain memakai celana ini.”

“Itukah alasannya kau memakai baju mirip mafia?” tanya Jaeduk sambil menahan tawa.

“Tentu saja. Apalagi? Kalian kan tahu persis aku benci jika aku menjadi pusat perhatian orang karena mata alien ini apalagi celanaku sobek.”

Jaejin mendengus, dia membuka laci mejanya dan menarik celana olahraga warna biru dongker, “Pakai itu. Kita ini bekerja sebagai staf daycare, bukan sebagai pembunuh bayaran kelompok mafia tertentu.”

Jiwon tertawa, “Kau benar. Aku adalah staf daycare. Bukan pembunuh bayaran.”

 

 

 

 

 

 

BERSAMBUNG

 

 

Advertisements

5 thoughts on “[ FF EunKang/JionHoon | Fire Water part 1 ]

  1. Kok sedih ya pas liat kata bersambung? 😂😂😂
    Sumpah ngakak banget pas jiwon ngira cewek cantik itu saking kagetnya liat dia suaranya jadi kayak laki-laki 😂😂😂 hahahaha

    Like

    1. Terimakasih dukungannya 😊 punya akun LINE/Twitter aktif? Part selanjutnya akan di lock / pake password. Jadi nanti begitu update, aku bakal kirim passwordnya ke situ 😉

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s