[FF EunKang / JionHoon |Fire Water – Teaser ]

Disclaimer :

Idenya udah ada di kepala sejak lama, tapi akhirnya baru niat nulis gara gara dengerin lagunya Code Kunst yang Fire Water. Ini bukan ff yaa, masih teaser, kalau banyak feedback bagus, pasti dilanjut. Kalau engga ada ya udah. Mohon maaf kalau idenya agak mirip sama ff sebelah sini dan sebelah sono, tapi saya yakin, karya ini murni bukan plagiat. Jikalau ada kesamaan adegan atau potongan, mohon maaf murni ketidaksengajaan.

Cerita ini nantinya bakalan sedikit angst, dan gue gak bisa janji endingnya bahagia. Jangan tanya update kapan, kalo misalnya gue lagi mood pasti bakalan di update. yang jadi fokus gue sekarang ini adalah namatin What U Are. Udah itu aja. :p

 

 

 

Main cast :

Eun Jiwon (28) penanggung jawab kelompok Merpati di Sunny Daycare.

Kim Jaeduk (27) penanggung jawab kelompok Delima di Sunny Daycare.

Lee Jaejin (27) penanggung jawab kesehatan di Sunny Daycare

Jang Suwon (26), karyawan kontrak di Dream Design.

Ko Jiyong (26), supervisor di Anonymous Contractor

Kang Sunghoon (26), freelancer.

 

 

 

***

 

 

 

Ponsel pintar dengan merek iPhone7 berwarna putih itu bergetar cukup kencang, namun rupanya sang pemilik ponsel masih enggan membuka matanya untuk sekedar menghentikan ponsel tersebut berhenti bergetar. Setelah bergetar di meja selama lebih dari dua menit, akhirnya pemilik ponsel tersebut menggeliat bangun. “Aish.”

Dia melihat id penelepon yang terpampang di layar dan buru buru mengangkat telponnya begitu melihat nama Ko Jiyong, “Halo?”

“Akhirnya kau bangun juga!” seru Jiyong lega, “Aku tahu kau baru saja tertidur sekitar tiga jam lalu, tapi aku benar benar butuh bantuanmu.”

“Nope. It’s okay. Ada apa?”

“Istriku baru saja dapat panggilan emergensi dari rumah sakit, sedangkan aku juga harus meeting jam 9 pagi di Busan. Kami tidak punya orang yang bisa mengantarkan Seungjae ke daycare.”

“Ah..Seungjae ya?” jawab Sunghoon dengan sedikit malas. Jika Seungjae bukan anak dari sahabat sekaligus bosnya, Sunghoon pasti sudah menolaknya mentah mentah. Sebetulnya Seungjae anak yang cukup cerdas, hanya karena dia sangat senang sekali berinteraksi dengan orang asing dan agak hiperaktif, membuat Sunghoon agak kerepotan mengawasi Seungjae jika Jiyong meminta tolong padanya untuk mengawasi Seungjae. “Hanya mengantarkannya ke daycare kan?”

“Yap. Orang orang di daycare sudah tahu Seungjae kok. Nanti biar kutelpon Jiwon hyung. Dia penanggung jawab Seungjae selama di daycare.”

“Baiklah. Aku siap-siap dulu.”

“Oke.” Balas Jiyong cepat, “Aku dan Seungjae akan tiba di apartemenmu sekitar 5 menit lagi.”

 

***

 

“Paman Sunghoon! Cepat! Seungjae bisa terlambat!”

“Yak! Seungjae yah! Ini masih jam 8 kurang! Kita justru kepagian datang ke daycare!” balas Sunghoon sedikit tersengal sambil mencengkeram hoodienya. Tas selempangnya sudah melorot ke lengannya dan dia tak sempat membetulkannya karena sibuk mengejar Seungjae.

“Ayo cepat! Kalau telat Seungjae tidak bisa main pesawat-pesawatan dengan Pak Guru!”

“Haish.” Umpat Sunghoon. “Yak Seungjae! Kalau lari lihat ke depan!”

“Seungjae gak bisa lihat ke depan, kalau paman Sunghoon larinya di belakang!”

“Seungjae, kau akan menabrak orang!”

“Mana mungkin! Jangan berbo..”

BRUK

Sunghoon menelan ludahnya dan buru buru menyusul Seungjae yang terduduk di aspal. Sialnya, orang yang Seungjae tabrak sepertinya bukan tipikal orang baik-baik. Dari pakaiannya yang serba hitam dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, Sunghoon merasa bahwa orang ini bukan orang baik-baik. “Maaf.”

Orang itu hanya melirik Sunghoon dingin dan mengedikkan kepalanya ke arah Seungjae.

“Ah, Seungjae, kau baik-baik saja?” tanya Sunghoon sambil membantu Seungjae berdiri. “Tidak ada yang luka?”

Seungjae menggeleng, matanya fokus melihat sosok orang yang ditabraknya, “Ah! Pak Guru!”

Orang itu menurunkan masker yang dikenakan hingga memperlihatkan bibirnya, “Omo! Lihat siapa yang pergi penuh semangat ke daycare!” katanya ceria. Sungguh sangat bertolak belakang dengan imagenya yang suram.

“Pak Guru! Ayo kita main pesawat-pesawatan! Seungjae gak terlambat kan?” Jiwon mengangguk dan melirik ke arah Sunghoon yang masih keheranan dan berkata, “Terimakasih telah mengantar Seungjae. Jika ada sesuatu yang sangat urgen, saya pasti akan menghubungi Anda.”

Jiwon melambai singkat ke arah Sunghoon dan berbalik memunggunginya, menyusul Seungjae masuk ke daycare.

 

***

 

‘Nasib seorang freelancer,’ pikir Sunghoon. Ini sudah kesekian kali Jiyong memohonnya untuk mengantarkan Seungjae ke daycare. Meski awalnya Sunghoon setuju mengantarkan Seungjae tanpa imbalan, tapi lama kelamaan, Jiyong yang merasa tidak enak, akhirnya mulai memberikan Sunghoon imbalan. “Hitung-hitung aku mentraktirmu segelas besar capucinno tiap pagi.” Kilahnya tiap Sunghoon menolak imbalan dari Jiyong.

Dia sudah cukup akrab dengan staf daycare lainnya termasuk Jaeduk, penanggung jawab kelompok Delima yang selalu menawarkan segelas teh setiap melihatnya menjemput Seungjae 10 menit lebih lama daripada jam Jiyong biasa menjemput Seungjae dan juga Jaejin, penanggung jawab kesehatan yang selalu pulang paling akhir setiap harinya.

Dia dan Jaeduk sedang mengawasi Seungjae dan Eunsoo yang sedang asyik bermain dengan Jiwon. Mereka sedang bermain peperangan dengan Jiwon dan tanpa sengaja tangan Seungjae mengenai mata kiri Jiwon. “Auch.”

Sunghoon buru buru menghampiri Seungjae, “Seungjae yah! Ayo minta maaf”

Seungja masih tak bergeming, matanya sibuk memperhatikan Jiwon yang meringkuk kesakitan di lapangan, “Pak Guru?”

Sunghoon menyadari Jiwon yang meringkuk kesakitan, “Kau tak apa?”

Jiwon tak menjawab dan masih meringkuk kesakitan, Sunghoon menarik tangan Jiwon yang menutupi mata kirinya, dan melihat ada sesuatu salah pada mata kiri Jiwon. “Matamu..”

Jiwon menyadari bahwa Sunghoonlah yang menarik tangannya berusaha menggumam pelan, “Jaejin”

“Kau harus ke rumah sakit! Bukan Jaejin hyung!”

“Jaejin!”

“Jaejin tak bisa mengatasi matamu!”

“AKU BILANG AKU BUTUH JAEJIN!” raungnya keras tanpa sadar bahwa Eunsoo dan Seungjae masih berada di dekatnya, “MINGGIR” Dia mencoba bangkit namun berakhir tersungkur kembali ke lapangan. Jaejin yang menyadari raungan Jiwon buru buru menyeberangi lapangan dan memapahnya bangkit, “Ayo hyung, kita ke ruanganku sekarang.”

Jaeduk menenangkan sebentar Eunsoo dan Seungjae yang masih terkejut dengan raungan Jiwon, “Mata Pak Guru Jiwon kelilipan, makanya dia kesal. Yuk, kita lihat si kelinci.” Ajak Jaeduk sambil menggendong Eunsoo dan Seungjae, membawa mereka menjauh dari Sunghoon yang kebingungan sendirian di tengah lapangan.

 

***

 

Sunghoon mengisap rokoknya. Dia memang bukan perokok, namun tekanan hidup dan deadline di depan mata terasa ringan jika dia menyempatkan diri untuk merokok sebentar. Mata kiri Jiwon masih menjadi pikirannya. Pupilnya berkabut sama seperti orang yang tidak memiliki penglihatan, tapi ada bekas bekas seperti bekas terbakar yang tidak wajar di kelopak matanya. Selama ini Jiwon menutupi pupilnya dengan lensa kontak warna hitam dan menutupi bekas terbakar pada wajahnya dengan make up. Namun karena dia dan Jiwon saling bertatapan dalam jarak yang cukup dekat, membuat bekar terbakar itu sangat kentara.

“Untuk ukuran pria manis, kau cukup macho juga rupanya.” Sapa Jiwon sambil merebut rokok Sunghoon dari tangannya, dan mematikannya, dan melemparnya  ke asbak, “Halo.”

Sunghoon mengangguk canggung dan berkata, “Maaf untuk yang tempo hari.”

“Tak apa-apa, toh cepat atau lambat kau pasti akan tahu.” Jawab Jiwon , “bahwa aku buta dan itu karena ulah ibuku sendiri.”

 

 

 

***

 

Tolong kasih pendapat yaa, jika banyak feedback bagus, pasti dilanjut, kalau ga ada pun pasti dilanjut juga. wkwkwkwkw

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s