[ FF EunKang/JionHoon | What U Are? part 1 ]

Disclaimer :

Cerita ini dibuat dari khayalan (??) aku dan Adis di LINE, gegara Adis terus terusan bilang kalau misalnya lagu What U Are nya Jiwon itu buat Hoony. So, sebelum jauh mengkhayal, gue mau sedikit menekankan kalau fic ini alurnya maju mundur, dan juga beberapa didasarkan pada fakta, sisanya murni khayalan gue semata, jadi maap maap aja kalau ada waktu dan tempat yang gak sesuai fakta. Ficnya dibuat pendek, gak sepanjang fic gue yang dulu dulu (sekali post 6000 words). Anyway, apapun itu, kritik dan saran tetap gue terima dengan lapang dada (hiatus nulisnya udah kelamaan). One last word! EUNKANG FOREVER!!!

P.S WAJIB DENGERIN DAN HAYATI LAGU EUN JIWON – WHAT U ARE

 

 

 

eunkang1

 

***

 

Seoul, Juni 2015

Jaeduk sudah memegang gagang pintu, tepat saat ponselnya berbunyi. Tadinya, dia memilih untuk mengabaikan pesan tersebut dan membacanya setelah dia masuk ke dalam mobilnya. Tapi akhirnya dia memilih untuk membaca pesannya saat itu juga.

Tony Hyung : Apa kau sudah pulang?

Tony Hyung : Aku ingin membicarakan sesuatu

Jaeduk mengernyit dan akhirnya kembali ke ruangan tempat dia biasa bekerja dan membalas pesan dari Tony sambil duduk.

Me : Belum, masih ada sisa pekerjaan sedikit lagi

Me : Apa ada sesuatu yang terjadi?

Tony Hyung : Ah.. sebenarnya aku ragu mengatakan ini padamu, tapi entah kenapa kurasa kau harus tahu.

Me : ?

Tony Hyung : Apa kau masih berkomunikasi dengan Jiwon akhir-akhir ini?

Tony Hyung : Kurasa dia sedang dalam keadaan tidak waras

Tony Hyung : Bagaimana bisa dia bersikap bodoh seperti itu T T

Me : Hyung, aku tidak mengerti…

Me : Terakhir kali kami bertemu dua bulan sebelum dia mengatakan bahwa dia akan sibuk mengerjakan mini albumnya.

Me : Apa ada sesuatu yang terjadi antara Hyung dan Jiwon hyung?

Tony Hyung : Uggh, kukira kau tahu.

Tony Hyung : Mini albumnya…

Tony Hyung : Ah sudahlah lupakan saja kalau kita membicarakan hal ini.

Tony Hyung : ini hanyalah spekulasi dari member H.O.T yang lain

Tony Hyung : Abaikan saja pesan ini dan pulanglah

Tony Hyung : Tidak ada yang harus kau pikirkan, aku serius, pulanglah

Me : Hyung.

Me : Aku dan Jiwon hyung mungkin tidak sedekat dulu lagi seperti bagaimana kita dekat sekarang.

Me : Meskipun begitu, aku tetap menyayanginya.

Me : Katakan saja hyung, siapa tahu aku tahu masalahnya.

Tony Hyung : Maaf

Tony Hyung : Kupikir kau tahu, makanya aku mengatakan hal ini padamu.

Tony Hyung : Ini soal Kang Sung Hoon.

Me : ?

Me : Apa hubungannya antara mini album Jiwon Hyung dan Sung Hoonie?

Tony Hyung sent a file

Tony Hyung : dengarkan saja dulu lagu ini.

Tony Hyung : Apa tidak terlalu berlebihan mengungkapkan perasaan segamblang itu kepada dunia?

Tony Hyung : Apa mereka sedang bertengkar?

Tony Hyung : Apapun jawabanmu, cukup kau simpan dalam hati saja.

Tony Hyung : Toh, bagaimanapun ini masalah internal Sechskies.

Tony Hyung : Salahku terlalu ikut campur.

Jaeduk menghela napas panjang. Masalahnya bukan sekali-dua kali dia ditanyai perihal hubungan Jiwon  – Sung Hoon. Dan dia juga telah bersumpah pada Jiwon untuk tidak membocorkan apapun yang terjadi (yang Jaeduk ketahui tentu saja) dalam Sechskies, pada siapapun, terutama SungHoon

 

FLASHBACK ON

Seoul, musim gugur 2011

“Duduklah.” Gumam Jiwon sedikit tergesa, begitu dia menyadari Jaeduk dan Suwon menghampiri mejanya.

Jaeduk menatap Suwon yang sedikit kebingungan dengan sikap Jiwon, tetapi kemudian dia menarik kursi di hadapannya dan duduk di hadapan Jiwon.

“Aku tak bisa lama-lama” katanya sedikit gusar setelah melihat tatapan sinis Suwon. “Hanya ini yang kubisa.” Jiwon menyorongkan selembar cek ke arah Jaeduk.

“Tapi kenapa?” tanya Suwon, “Sebegitu susahnyakah datang ke persidangan? Apa kau lupa?”

“Suwon, berhentilah merengek. Aku punya urusan yang lebih penting dari ini.” Jawab Jiwon tak sabar.

“Wah, aku tak percaya. Hyung saja yang bicara, aku tunggu di luar.” Suwon bangkit dari kursinya dan pergi ke luar café.

“Aku tak bisa menceritakannya pada kalian.” Kata Jiwon sambil menghela napas begitu melihat tatapan Jaeduk. “Setidaknya untuk saat ini.”

Sunyi sesaat sebelum akhirnya Jaeduk memberanikan diri untuk berkata , ”Baiklah. Kami berdua akan lakukan apapun yang kami bisa untuk Sung Hoon.”

“Anak baik.” Balas Jiwon sambil tersenyum pahit. “Kalau dia tanya kemana aku, jawab saja, kalau hyung kesayangannya ini sangat kecewa dan tidak mau kenal lagi padanya.”

Jaeduk terpana, “Hyung…”

“Sudahlah, kalian harus cepat. Aku juga harus segera pergi.”

Jiwon bangkit dan pergi meninggalkan Jaeduk yang masih terpana keheranan.

FLASKBACK OFF

 

 

Jaeduk menggelengkan kepalanya begitu dia selesai mendengarkan lagu yang baru saja dikirimkan oleh Tony. Kepalanya pusing. Entah apa lagi yang dipikirkan Jiwon hingga sesembrono ini.

Tony Hyung : Duckie?

Pesan pop-up dari Tony menyadarkan Jaeduk dari pikiran kalutnya dan akhirnya Jaeduk bangkit dari kursi dan meninggalkan ruangannya sembari mengetik pesan.

Me : Ya?

Me : Sudahlah tak apa hyung. Terima kasih sudah mengkhawatirkan Sechskies.

 

***

Jaeduk menatap jalanan Seoul yang sudah agak lenggang. Kepalanya masih dipenuhi ingatan masa lalu kala Sunghoon didakwa bersalah. Ingatan pahit memang, tapi entah kenapa  mendengar lagu yang berjudul What U Are seolah membuat ingatan pahit itu kembali teringat. Tanpa sadar tangannya meraih ponsel dan mengetik speed dial no. 2.

“Whats up man” sapa suara itu riang.

Jaeduk masih terdiam, dan tidak sadar bahwa dia sedang melakukan panggilan telepon.

“Hyung?”

“Ah, ya halo.”

“Apa terjadi sesuatu?”

“Aku baik baik saja Suwon-ah” kata Jaeduk sambil menyetel ponselnya agar dalam keadaan handsfree. Dia sudah bersiap pulang dan entah kenapa tidak sadar sudah memencet speed dial nomor Suwon.

“Hyung, bohong itu dosa.”

“Aku serius. Aku baik baik saja.” Jaeduk menjalankan mobilnya, mengarahkannya ke arah apartemen dia dan Tony tinggal “Tak perlu khawatir.”

“Ayolah.” Desak Suwon. “Adikmu? Tony Hyung? Anjingmu?”

“Suwon-ah, aku tak apa-apa”

Suwon mengernyitkan dahi, semakin Jaeduk menyangkalnya, semakin dia tahu ada sesuatu yang Jaeduk sembunyikan.

“Jiwon hyung?”

Sunyi lama sebelum akhirnya Jaeduk menghela napas panjang dan menjawab , ”Aku tidak tahu apakah aku bisa menceritakannya padamu.”

“Hmm. Apa kau khawatir aku akan dipukul Jiwon hyung jika mencoba menasehatinya lagi?”

Jaeduk terkekeh sebentar dan menjawab “Masalahnya tidak sesederhana itu, Suwon-ah”

“Lalu?”

Jaeduk berpikir sesaat dan berkata, “Bar biasa, 30 menit lagi. Oke?”

“Hm” gumam Suwon mengiyakan dan mematikan telponnya. “Hyung bodoh itu kenapa lagi sih.”

 

***

 

“Kalau saja dia lebih muda! Aishhhh mungkin sudah kujadikan bubur abalone.” Raung Suwon saat Jaeduk selesai menceritakan isi chat dari Tony

Jaeduk menatapnya sinis dan menjawab , “kalaupun dia lebih muda, kemampuannya berkelahi tetap lebih bagus darimu.”

“Dia pikir Sung Hoon hidup dalam kepura-puraan setelah semua hal buruk yang menimpanya? Cih. Apa kabar dengan dia yang bersembunyi di kamarnya setelah HAL BURUK yang tidak seberapa dengan Sung Hoon? Bukankah dia pengecut?”

Jaeduk menegak habis bir yang ada di depannya dan berkata, “Aku benci mengatakan ini tapi kurasa kau ini bodoh “

“Kau membelanya? Masih membelanya setelah APA YANG DIA KATAKAN TENTANG TONY PADAMU? Aku tak percaya!”

“Dia sedang mabuk, dan KAU juga sedang mabuk. Bisakah aku mulai bercerita tanpa emosi?”

Suwon terdiam cukup lama sampai akhirnya berkata, “Baiklah. Maafkan aku.”

 

 

FLASHBACK ON

Café X, Seoul, Februari 2012

Jiwon tersenyum lemah begitu menyadari Jaeduk datang. Bukan saat yang tepat untuk berbicara tentang kasus Sung Hoon, tapi setidaknya dapat membuatnya lupa soal apa yang Soo Yeon katakan padanya sebelum dia pergi menemui Jaeduk.

“Kabar baik?” sapa Jiwon.

“Seperti yang hyung lihat.” Jawab Jaeduk. “Apakah syuting variety show selalu seberat ini?”

“Mmm.” Gumam Jiwon dan balik bertanya, “Apa aku terlihat begitu lelah?”

Jaeduk mengangguk. Semenjak menikah, Jiwon lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, selayaknya pasangan yang baru menikah pada umumnya. Tapi entah kenapa, orang-orang di sekeliling Jaeduk seringkali membicarakan bahwa rumah tangga Jiwon yang amburadul. Jaeduk sendiri memilih tidak mempercayainya sebelum Jiwon sendiri yang bercerita kepadanya.

“Apa noona baik baik saja?”

“Hm? Yah, kami baik baik saja”

“Hyung.”

“Ya?”

“Apa kalian bertengkar lagi?” tanya Jaeduk hati-hati. “Karena Sung Hoon?”

Jiwon menunduk dan menyeruput kopinya dalam diam. Dia menatap Jaeduk lama sebelum akhirnya menjawab, “Aku selalu payah dalam berbohong, ya kan?”

“Dia sudah tahu kemana sebenarnya tabungan kami berdua untuk ke depannya lenyap. Dan yah, kau bisa tebak bagaimana akhirnya.” Lanjut Jiwon. “Tapi tujuan utamaku kesini bukan untuk itu Jaeduk-ah. Apa Hoonie baik-baik saja?”

Jaeduk membuka mulutnya namun Jiwon memotongnya dengan cepat “Hoonie kita baik baik saja kan?”

Jaeduk tidak punya pilihan lain selain mengatakan ya dan Jiwon terdengar sedikit lega. “Polisi memutuskan kasus Sung Hoon tidak memiliki bukti yang kuat, jadi dia sudah bebas sekarang. Hanya saja kepercayaan dirinya benar-benar hilang. Butuh waktu untuknya mengizinkan kami membesuknya. Bahkan ketika dia dipenjara pun, dia tidak mau menemui kami.”

Jiwon menunduk lagi, “Setidaknya dia sudah melewati masa terberatnya. Dia sudah bebas kan?”

“Aku tidak mengerti.”

“Jaeduk-ah. Sebenarnya aku ingin kau berjanji satu hal padaku.” Kata Jiwon mencoba mengalihkan pembicaraan. “Tolong jaga dia untukku ya?”

“Hyung?”

Jiwon memaksakan diri terkekeh dan berkata, “Mungkin aku akan sibuk sekali tahun ini, dan aku khawatir aku tidak bisa bertemu kalian sesering dahulu.”

“Variety show lagi?” tanya Jaeduk sembari menatap Jiwon yang pura pura menatap lalu lintas Seoul sore itu. “Aku mengerti jika hyung ingin mengganti uang tabungan hyung dan noona yang diberikan untuk Sung Hoon, tapi tidak seperti ini caranya.”

Jiwon menggeleng dan berkata, “Aku belum bisa bercerita padamu setelah semuanya jelas. Dan lagipula kupikir Sung Hoon sudah pasti membenciku kan? Karena Hyung kesayangannya telah berbohong akan membantunya keluar dari penjara, tapi nyatanya hingga dia bebas aku tidak melakukan apa-apa.”

“Apa menurutmu uang sebanyak itu tidak cukup membantunya?”

“Yang dia butuhkan bukan uang. Tapi dukungan dari orang-orang terdekatnya, dan aku tidak ada di saat dia membutuhkan aku.”

Jiwon memaksakan dirinya tersenyum dan menatap Jaeduk lurus-lurus dan berkata, “Kumohon, jagalah Sung Hoon. Aku sudah gagal membimbingnya sebagai leader.”

“Tapi kenapa?”

“Jaeduk-ah…Kumohon..”

“Hyung…”

“Hanya kau yang bisa Jaeduk-ah. Kumohon.”

Jaeduk tak punya pilihan lain selain mengangguk dan membiarkan Jiwon pergi terlebih dahulu.

***

Seoul, Februari 2013

Jaeduk menatap layar televisinya tanpa berkedip sekalipun. Sosok yang dia kenal sedari tadi hadir di layar televisinya. Ponselnya juga tidak berhenti berdering dimulai sejak berita di televisi dimulai. Matanya mulai dipenuhi air mata, begitu dia teringat janjinya pada Jiwon setahun yang lalu.

“Hyung, bodoh.” Isaknya pelan. “Kenapa kau harus menanggungnya sendirian sekian lama? Apa hyung pikir, aku hanyalah seorang anak kecil yang tidak boleh tahu urusan orang dewasa?”

Jaeduk menatap nanar lagi layar televisinya dan tangisnya semakin menjadi ketika tahu bahwa Jiwon sudah bercerai semenjak bulan Agustus 2012. Dia menangis hingga beberapa saat kemudian dan akhirnya memutuskan untuk mengangkat ponselnya yang berdering sejak tadi.

“Hyung……”

“Aku sudah melihatnya Suwon-ah. Aku juga sudah menghubungi nomornya tapi tentu saja tidak aktif. Dan kau tahu, managernya juga tidak tahu kemana Jiwon hyung pergi hari ini.”

“Dia tidak mungkin melakukan hal-hal aneh seperti menenggelamkan diri ke sungai Han ‘kan?”

Jaeduk mendesah, “seharusnya tidak. Mungkin dia hanya ingin menghindari wartawan saja.”

“Baiklah. Kabari aku jika hyung sudah tahu dimana Jiwon hyung berada.”

Ponsel Jaeduk berdering lagi menandakan ada pesan masuk.

Duck-ah, aku baik baik saja, terima kasih. Fokus saja kepada janjimu.’

Jaeduk menghela napas lagi, Jiwon sedang berada pada titik terendahnya.

FLASHBACK OFF

***

“Jadi kalau boleh kusimpulkan, inti dari perceraian mereka karena Sung Hoon begitu?” tanya Suwon. “Kok bisa sih?”

Jaeduk mengangkat bahunya dan berkata, “Aku tak tahu. Tapi yang jelas uang yang waktu itu kita gunakan untuk membantu Sung Hoon bukan sepenuhnya uang Jiwon hyung.”

“Yang aku tidak mengerti, kenapa dia tidak pernah jujur dengan perasaannya? Lihat Soo Yeon noona! Lihat Sung Hoon! Mereka berdua yang lebih banyak tersakiti, bukan Jiwon hyung!”

Jaeduk menatap Suwon sedikit sinis, dan Suwon kemudian memelankan suaranya sebelum berkata pelan, “Begitu sih menurutku.”

“Apa menurutmu, orang Korea akan senang dengan berita Jiwon hyung lebih memilih Sung Hoon daripada istrinya sendiri?”

Suwon menggeleng. Mereka berdua terdiam lama sebelum akhirnya Jaeduk kembali membuka pembicaraan.

“Jiwon hyung hanya bingung. Dia tidak tahu apakah selama ini dia menganggap Sung Hoon sebagai adiknya atau sebagai orang yang paling penting bagi hidupnya. Pernikahannya dengan Soo Yeon noona membuatnya tersadar bahwa yang selama ini dia cintai hanyalah Sung Hoon.”

Mereka terdiam kembali. Dan Suwon tiba tiba tersentak kaget.

“Omong omong soal Sung Hoon, bukankah mereka sudah berbaikan sebelum Sung Hoon mengadakan fan meeting?”

Jaeduk menggeleng, “Aku tidak tahu, tapi yang jelas mereka tidak sedekat dulu.”

“AIIISSSSH, aku frustasi hyung! Kenapa sih, mereka tidak mau menurunkan ego dan mencoba berbicara dari hari ke hati?”

Jaeduk terkekeh, “Jika semuanya semudah itu, aku tidak akan menyeretmu untuk minum dan mendengarkan ceritaku, bodoh.”

***

MBC, Agustus 2015

Jiwon berkali – kali menatap jam tangannya. Jadwalnya begitu padat tapi entah kenapa PD Infinity Challenge yang mengajaknya untuk meeting belum menampakkan hidungnya. Jiwon keheranan, apa yang menyebabkan MBC memintanya untuk datang ke meeting hari ini. Lagipula, bukankah dia sudah menyanggupi untuk datang di beberapa episode mendatang sebagai bintang tamu?

Pintu ruang meeting tiba tiba terbuka. Jiwon bangkit untuk menyapa PD itu namun dengan cepat PD tersebut memberi isyarat pada Jiwon untuk terus duduk.

“Singkat saja Jiwon-ssi. Salah saya membuat Anda menunggu lama.” Katanya cepat. “Kami sedang merencanakan untuk melanjutkan segmen TotoGa season 2. Dan tim kami sepakat jika kami akan menawarkan Sechskies sebagai artis yang akan berpatisipasi pada segmen kali ini.”

“Sechskies?”

“Ya, Anda tidak salah dengar. Saya pikir, lebih mudah apabila leadernya yang menjelaskan soal tawaran ini pada member lainnya.”

Jiwon memandang PD itu dengan ragu ragu , “Saya belum dapat memastikan kapan saya bisa bertemu dengan member lainnya mengingat saya sendiri juga begitu sibuk.”

“Tak perlu terburu – buru Jiwon ssi, saya mengerti itu. Saya harap Anda sudah dapat memberikan jawaban Anda di bulan September.”

Jiwon mengangguk dan bangkit dari kursinya dan menjabat tangan PD sebelum keluar “Akan saya pertimbangkan baik baik,”

“Saya harap Anda dapat mempertimbangkan tawaran ini sebaik mungkin. Percayalah, kami akan membuat konsep yang sangat baik jika Sechskies menerima tawaran ini.”

Jiwon melepaskan jabatan tangannya dan membungkuk , “Kalau begitu, saya permisi.”

Jiwon menutup pintu ruangan meeting dengan perlahan, bertolak belakang dengan apa yang dia rasakan. Dadanya bergemuruh. Kesempatan yang sudah sangat dia tunggu sekarang sudah nyata ada di hadapan matanya.

‘Sechskies? Masa bodoh’, pikirnya liar. Sechskies sudah menjadi masa lalu yang menyenangkan, dan baginya hanya ada satu tujuan di depan matanya. Mengembalikan Kang Sung Hoon kembali ke pelukannya.

 

WHAT U ARE, part 1 end

Advertisements

10 thoughts on “[ FF EunKang/JionHoon | What U Are? part 1 ]

  1. Oke mungkin ini kedengerannya agak overboard, tapi jujur aku bombay baca FF ini dari awal T^T bacanya pas banget pas lagu would you remember, as i let you go, say, thanks, sama bye yang keputer. gilaaaaaa bikin FF ini kerasa tambah dramatis T^T

    Baik jiwon ataupun sunghoon dua-duanya ada di sisi yang kompleks. cobaan ke mereka berat banget T^T dan sumpah ini kerasa nyata banget FFnya. Bahkan aku serasa ngedenger suara dialog para casts. Banyak kata-kata jiwon yang bikin greget, “Kalau dia tanya kemana aku, jawab saja, kalau hyung kesayangannya ini sangat kecewa dan tidak mau kenal lagi padanya.” , “Kumohon, jagalah Sung Hoon. Aku sudah gagal membimbingnya sebagai leader.” DAMMIT EUNKANG T^T

    Huwaaaa sukaaaaa banget ih sukaaaaa.

    Like

    1. Terimakasih ><
      Jujur nulis ini banyak ragunya, karena kalo alurnya gak terlalu lambat atau terlalu cepet, tapi keliatannya pas yaaa. Part 2 ceritanya ada di bagian Hoony yaaa jadi tungguu!! Pasti lebih panjang. Muahahahahaha 😙😙😙😙

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s